Lewat "Kolaborasoe", Endank Soekamti Sukses Cetak Hits (Lagi)

Mendengar album garapan Endank Soekamti bertajuk "Kolaborasoe" kita seakan dibawa ke nuansa lain dari lagu versi aslinya. Keahlian Endank Soekamti meng-aransement ulang  lagu tentu tidak lepas dari kerja sama team, termasuk para personel Endank Soekamti ; Ari (drum), Dory (gitar), dan Erix (bas dan vokal). Konon, dalam penggarapan  beberapa lagu ada yang "ditake" dari beberapa studio, dan tim Endank Soekamti kudu bikin mixing-nya agar lebih pas terdengar.

Ada tiga  buah lagu karya Endank Soekamti, "Heavy Birthday" dan "Syubidu"--dibawakan Sapo Jarwo dan lagu  "Luar Biasa" -- dibawakan Kemal Palevi. Ketiga lagu Endank Soekamti itu   disandingkan dengan 11 lagu lain karya musisi ternama Indonesia seperti Slank, Gigi, Naif, Pure Saturday, Cherrybelle, hingga Didi  Kempot. 

Banyak hal yang tak terduga dalam kolaborasoe  ini.  Teknik mixing dan aransement dilakukan dengan sangat baik dan nyaris sempurna. Tidak hanya itu, kesemua lagu yang digarap dalam album ini  ditunjang dengan kemampuan Endank Soekamti mengisi "partitur kosong" dari versi lagu aslinya, sehingga menjadikan kumpulan lagu dalam album ini sangat  enak didengar.

Silakan simak dalam  lagu "Dilema" yang dipopulerkan girlband CherryBelle. Lagu yang tadinya sangat lembut dan romantis dimodif dengan model  intonasi yang sangat nge-rock. Kolaborasi vokal para personel CherryBelle dengan para  permainan Endank Soekamti sangatlah kompak.   

Dalam lagu "Luar Biasa" yang dibawakan oleh stand-up comedian "Kemal Pahlevi" Endank Soekamtibergerak mendominasi dengan  nada-nada cepat.  Vokal Kemal yang pas-pasan pun  menjadi cukup nyaman untuk didengarkan. 

Tidak kalah seru, lagu karya band NAIF yang berjudul "Benci untuk Mencinta" buah karya Pepeng Naifdigarap dengan menonjolkan karakter vokal aslinya, David Bayu. Endang Soekamti kembali mengisinya  dengan  imbuhan  irama rock yang kental. Untuk menjadikan lebih "ramai" dalam barisan nadanya,Endank Soekamti menimpali dengan backing vokal. 

Lagu lain yang memiliki nuansa "beda" karena sentuhan Endank Soekamti dengan irama rock adalah "Kunang-kunang" (Esnanas); Parangtritis (Didi Kempot); "Masa Kecil" ( Tom Kill Jerry);  Eaaa ( CJR); Kosong (Pure Saturday),  dan "Tak akan Ada Cinta yang Lain" (Dewa19). 

Nuansa kental gaya Endank Soekamti memang mewarnai album ini, sekalipun dalam  teori kolaborasi Endank Soekamti dengan para band 50:50. Dalam keping DVD behind the scene album ini para pemilik lagu sebetulnya memberikan kebebasan kepada Endank Soekamti untuk "mengeksploitasi" karya kreatif mereka. Namun, dalam sisi manajemen Endank Soekamti , Euforia Record, ingin tetap mempertahankan karakter lagu. 

Kreativitas para personal Endank Soekamti diakui oleh Pongki Barata yang hasil karyanya "Pandangi Langit Malam Ini" digubah dengan gaya pop-rock yang cukup simple. Menurut saya ini  menjadi lebih keren dari versi asli karena melimpah dengan beat-beat ringan dan intonasi vokal yang baik. Sulit dibayangkan sebelumnya jika lagu cinta dan rindu ini  "disirami dengan aroma metal menjadi bumbu-bumbu menarik, belum lagi backing vokal yang menjadikan  lagu ini  terdengar menjadi manis. 

Tidak kalah menarik lagu GIGI    berjudul "Cintailah Mereka" dibawakan sang vokalis GIGI, Armand Maulana dengan  sangat rock. Diawal lagu, Endank Soekamti membuatnya .... kemudian suara Armand baru terdengar di bait  kedua. Yang menarik, dalam lagu ini Endank Soekamti membubuhi Backing vokal  dengan teriakan koor "aioooo .." seperti dalam lagu "Janji" yang cukup dikenal sebelumnya. 

Sayang, lagu band Slank "Anyer 10 Maret " menjadi pilihan Endank Soekamti untuk dibawakan dalam album ini. Seperti diketahui  ada puluhan lagu Slank yang bagus dan menjadi hits, serta kerapkali dibawakan diatas panggung. Pemilihan lagu ini menurut saya  kurang pas. Selain kurang sreg,  Endank Soekamti seperti kurang bebas "mengeksplotasi" karakteristis  lagu ini, lantunan lagu ini juga tidak banyak mengalami perubahan dari sisi arransement-nya. 

Seperti album sebelumnya, "Angka 8" , album kolaborasoe dikemas dengan model boxset, ukuran 19 x 30.5 cm. Cara yang ditempuh Endank Soekamti dalam mengemas tergolong unik. Selain memuat CD, dalam boxset seharga 300.000 ribu itu dilengkapi dengan DVD kolaborasoe Rockmentary, poster, tshirt, buku, sertifikat dan cincin bernomorkan data pemesan.

Penggarapan kemasan Endank Soekamti  juga mengandalkan kekuatan grafis. Album ke 6 ini, diisi ilustrasi karya Arie Prajoedi yang menggambarkan beragam binatang, mirip seperti dalam Kebon binatang. Cukup menarik dan layak menjadi sebuah koleksi album musik,  karena didalamnya lengkap; content apik, musik bagus, packaging keren dan eksklusif pastinya.   [lysthano/B-40, cinmi music reviewer; email: lysthano@gmail.com]
comments powered by Disqus