Bersama The Bakucakar, Glenn Fredly "Merdeka"

Menjaga konsistensi dalam berkarir, bagi sebagian musisi, merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Kita bisa saksikan betapa banyak musisi yang dahulu meraup sukses luar biasa kini seperti " tenggelam" ditelan arus jaman. Kemunculan banyak musisi muda berbakat, yang bahkan lebih baik, menjadikan pentas dunia hiburan, khususnya musik menjadi sangat dinamis. Namun, ditengah pergerakan panggung musik yang dinamis itu, musisi dan penyanyi Glenn Fredly masih tetap konsisten berkarya.

Pemilik nama lengkap Glenn Fredly Deviano Latuihamallo ini muncul dipanggung musik indonesia sekitar  tahun 1995 lewat band bentukannya, "Funk Section". Karir anak muda Ambon kelahiran Jakarta, 30 September 1975 ini makin meroket. Hingga kini Glenn sudah menghasilkan lebih dari 10 album.  Jiwanya dan musik seperti  sudah menyatu dan sangat sulit untuk dipisahkan .

Bukan Glenn jika tidak bisa "diam". Dia selalu bergerak mencari "panggung" dimana dirinya bisa berekspresi. Tidak sedikit musisi yang sudah bekerjasama dengan, misalkan tahun 2004, Glenn ikut serta dalam album milik Erwin Gutawa bertajuk "Salute to Koes Plus/Bersaudara".  Kemudian Glenn juga menjadi "pembimbing" bagi band baru "Pasto".
 
Tahun 2005, Glenn menciptakan lagu "Kita untuk Mereka", yang didedikasikan untuk korban Tsunami di Aceh. Lagu tersebut dinyanyikan oleh kelompok bernama "Indonesian Voices", terdiri dari penyanyi-penyanyi Indonesia, termasuk almarhum Gito Rollies, Harvey Malaiholo, Rio Febrian, Duta Sheila on 7, Fadly Padi, Kikan Cokelat, Ahhmad Albar, Vina Panduwinata, Baim, Delon, Tia AFI, Ruth Sahanaya, Syahrani, Ubiet, dan lain-lain. Bersama dengan Indonesian Voices, Glenn ikut menyanyikan lagu "Rumah Kita" dalam album "Tribute untuk Ian Antono". Diakhir tahun 2011, Glenn berkolaborasi dengan Ras Muhamad membuat sebuah lagu berjudul "Tanah Perjanjian". Di tahun yang sama  Glenn bersama Sandy Sondhoro dan Tompi membuat "Trio Lestari"

Tahun 2013 ini, Glenn Fredly sempat berkolaborasi dengan "The Bakucakar" dan  merilis album "Luka, Cinta dan Merdeka". Album berisi 12 lagu ini; Merdeka, Selagi Ada Waktu, Jakarta, Renjana, Luka Dan Cinta, Menanti Arah, Sabda Rindu, Blues Untuk Asmara, Lini Masa, Untuk Sebuah Nama,  Abadi, dan Malaikat Juga Tahu  menghadirkan sejumlah komposisi nge-pop ala Glenn. The Bakucakar yang digawangi ; Rayendra Sunito (drum), Bonar Abraham (bas), Andre Dinuth (gitar), Harry Anggoman (keyboard), Kenna Lango (hammond), Nicky Manuputty (saxophone) dan Rifka Rachman (sequencer) seperti tidak kesulitan mengiringi Glenn bernyanyi.

Komposisi apik terdapat dihampir setiap lagu. Dengan intro "Merdeka" Glenn seakan ingin mengantar para penggemarnya untuk menyelami sajian tembang selanjutnya yang didominasi lagu bertema cinta. Misalkan dalam "Selagi Ada Waktu", Glenn membawakannya dengan sangat powerfull. Garapan musik yang nge-beat digunakan  Glenn  untuk melakukan improvisasi vokal yang lebih leluasa.  Tidak hanya itu, dalam alunan lagu dengan tempo lambat, seperti dalam "Jakarta" pun Glenn membawakannya dengan sangat apik.

Lagu tempo lambat lainnya yang cukup menarik ada dalam "Renjana". Permainan gitar akustik yang ditimpali dengan alunan suara terompet dari kru The BakuCakar menjadikan lagu ini terdengar sangat "Romantis". Glenn membawakannya dengan sangat "lepas"  seiring dengan permainan ciamik sang gitaris "Andre Dinuth". Tidak ingin  terjebak dengan nada "datar" Glenn memainkan vokal tinggi dan lagi-lagi dengan improvisasi "merdeka-nya ala Glenn.

Bagi penyuka karya Glenn Fredly, mendengarkan deretan lagu dalam album ini, sangat dianjurkan. Selain dengan gaya permainan yang nge-pop, Glenn juga berkreasi dengan mencipta "Blues untuk Asmara" yang dipaketkan dengan musik bertempo blues. Diakhir lagu, Glenn kembali membawakan karya penulis yang juga penyanyi, Dewi Lestari, berjudul "Malaikat Juga Tahu". [lysthano/fotokaver:RPM]
comments powered by Disqus