Fariz RM dan Dian PP Sukses "Meremajakan" Lagu Lawas

Menyanyikan lagu yang sudah lebih dahulu populer  memang lebih mudah  untuk dikenalkan kembali ke publik. Apalagi  si penulis lagu sudah terkenal dan dimasukkan kedalam kategori "legend" dalam panggung musik Indonesia.  Tidak hanya itu si penyanyi lagu "daur ulang" tersebut juga penyanyi yang cukup dikenal  saat ini.

Tidak bisa dipungkiri, model pembuatan lagu dengan cara mendaur-ulang lagu lama kini sedang menjadi "trend".  Seperti ada upaya  dari sejumlah produser atau pun musisi untuk memperkenalkan kembali lagu lawas yang pernah menjadi "hits", agar "jualan" album tersebut menjadi lebih mudah.

Namun, apapun yang melatarbelakangi munculnya album musisi legend yang dinyanyikan kembali  oleh musisi muda merupakan upaya yang baik dalam melestarikan lagu-lagu Indonesia.

Salah seorang produser yang melakukan hal seperti disebut diatas adalah Seno M Hardjo. Seno melansir album dua musisi kawakan "Fariz RM" dan  "Dian Pramana Poetra" bertajuk "Fariz RM & Dian PP In Colaboration With". Album menampilkan sejumlah musisi ternama tanah air, seperti Sammy Simorangkir, Fatin Shidqia Lubis, Sandhy Sondoro, Indah Dewi Pertiwi, Tuffa, Citra Scholastika, Ecoutez,  Glenn Fredly dan Maliq & D'Essentials.

Ada nuansa yang berbeda saat lagu-lagu karya para maestro musik Pop ini dinyanyikan kembali oleh musisi muda, apalagi dalam hal aransemen-nya ada yang dibuat berbeda sehingga menghasilkan lagu dengan komposisi beragam;  menjadi "lebih baik", "biasa", dan atau menjadi "aneh".

Seperti halnya dilagu  pertama di album ini; "Kau Seputih Melati" yang dibawakan eks vokalis "Keris Patih", Sammy Simorangkir. Karya Yockie Soeryo Prayogo ini menjadi ciamik saat dibawakan oleh Sammy yang memiliki suara berat dan ber-vibra. Tidak cukup itu, seperti diketahui, Sammy memiliki  penghayatan  terhadap sebuah lagu yang dinyanyikan, sehingga menjadikan lagu ini  sangat nyaman untuk dinikmati.

Hal yang sama dilagu "Demi Cintaku" karya Dian Pramana Poetra, dibawakan penyanyi Fatin Shidqia Lubis dengan sangat baik. Karakter suara Fatin yang tipis namun "bulat"  alias tidak pecah menjadikan komposisi nada dilagu ini mirip dengan aslinya saat dibawakan Dian PP.

Tak kecuali lagu "Sakura" yang diciptakan Fariz RM kemudian dibawakan ulang oleh Sandhy Sondoro dengan gayanya yang Jazzy. Fariz sepertinya "sayang" melepaskan bait pertama dilagu ini untuk dibawakan orang lain, karena memang keputusan ini sangat tepat, karena dibait selanjutnya  Sandhy  melantunkan dengan penuh  improvisasi dan dengan alunan vokal yang "empuk".  Tidak hanya itu, unsur musik "tekno"  juga disisipkan dalam lagu ini termasuk alunan backing vokal hingga lagu menjadi lebih modern dan makin enak untuk didengar.

Lagu lain yang dibawakan dengan cukup baik  adalah "Semua Jadi Satu"  yang pernah sukses dibawakan Dian PP dan Deddy Dhukun, yang kemudian kembali dibawakan Indah Dewi Pertiwi dengan featuring Richard Schrijver. Kemudian "Antara Kita" yang dinyanyikan kelompok "Tuffa",  dibawakan dengan sangat  berani karena menyisipkan nada keras (nge-rock).

Namun yang kurang "sreg" ditelinga adalah saat Angel Pieters membawakan lagu "Biru" yang dipopulerkan Vina Panduwinata. Lagu yang sendu dan syahdu ala percintaan  dibawakan dengan gaya nge-pop oleh Angel, sehingga mereduksi alunan nada syahdu seperti yang terdapat dilagu aslinya. Tidak hanya itu, "imbuhan" suara drum menjadikan lagu  lembut (slow)  ini seperti kehilangan "karakternya"

Sementara "Kurnia dan Pesona" karya Fariz RM dibawakan dengan baik oleh Citra Scholastika. Tidak ada keistimewaan dari alunan vokal dilagu ini, karena pada dasarnyalagu ini tidak begitu sulit untuk dinyanyikan. Sentuhan nada-nada  nge-beat dan remix menjadikan  lagu ini  lebih nge-pop.

Untuk lagu "Masih Ada" , karya Dian PP dan Deddy Dhukun, oleh   "3 Composer" dibawakan dengan sempurna. Selain penghayatan liriknya pas, koor vokal dibawakan dengan kompak. Penggarapan musiknya untuk bisa lebih "modern" tidak berlebihan sehingga cukup nyaman didengar. Hal yang sama juga untuk lagu "Diantara Kata" oleh Ecoutez. Kelompok vokal ini membawakannya dengan sangat enjoy, sehingga nada-nada "jazzy" yang dihasilkan enak didengar. Belum lagi sentuhan string gitar yang memperkaya nuansa musik didalamnya,  karena  versi asli lagu ini terdengar monoton.

Duet vokal Dian PP dengan Glenn Fredly saat membawakan "Aku Cinta Padamu" terdengar masih kurang sempurna. Bait lagu romantik ini diakui cukup sulit, karena harus dibawakan dengan improvisasi yang pas dengan irama yang mengiringinya. Bisa jadi karena ini pula, komposisi lirik dibait awal sengaja dibawakan oleh sang penulis lagu Dian PP. Namun, jika dibandingkan dengan versi  lagu aslinya, vokal Dian PP saat membawakan lagu ini memang sudah tidak se-stabil dahulu. Untungnya, Glenn dengan vokalnya yang khas sukses meng-improve lirik dibait selanjutnya. Glenn seperti tidak kesulitan melakukan  penghayatan lagu, termasuk ketika dia membawakan bait lirik dengan nada yang menanjak.

Lagu Barcelona karya Fariz RM menjadi penutup yang pas dalam album kolaborasi ini. Fariz RM yang membawakan bait awal lagu ini, mirip dengan versi aslinya. Yang membuat beda lagu ini saat dibawakan bersama Maliq & D'Essentials adalah sentuhan " Musik Pop" ala Maliq. Musik pada "reff" dibuat riang dan terdengar sangat jazzy. Sisipan suara gebukan drum menjadikan nada-nada dalam lagu ini lebih variatif.  Seperti diketahui, suara solo gitar  masih tetap dipertahankan, namun Maliq memberikan sentuhan suara piano sehingga menjadi nyaman untuk didengar.
 
Selain sebelas lagu yang disuguhkan "TargetPop" juga memberikan 2 bonus track  yakni karya Isyana Sarasvati  dengan lagu berjudul "Paseban Cafe" karya Tatoet Yudiantoro, Bagoes AA dan Dian PP. Kemudian band "Sore" yang menyodorkan lagu "Jawaban Nurani" karya Hafiel Perdana Kusuma dan Dandung Sadewa.
 
Membundel mahakarya dari musisi lawas terkenal bisa  menjadi metode ampuh untuk mengenalkan kembali lagu-lagu lama yang sempat menjadi hits. Namun, secara tidak langsung , kemunculan  album re-cycle dari lagu-lagu lawas bisa  menjadi tanda "stag"nya musisi lawas dalam berkarya. Dalam hal "penjualan" mungkin ini lah cara yang efektif agar album compilasi ini banyak yang membeli  dengan segmen konsumen yang beragam (tua dan muda). Bravo, jayalah selalu musik dan musisi Indonesia. [lyz/foto: targetpop]

comments powered by Disqus