"Jangan Takut", Pesan Berani dan Kritis Dik Doank

Seniman serba-bisa, Dik Doank, pernah mencoba peruntungan dalam dunia tarik suara.  Pemilik nama lengkap Raden Rizki Mulyawan Kertanegara Hayang Denada Kusuma dari kecil memang menyukai dunia kesenian. Sejumlah bakat seni dimilikinya, seperti melukis, memainkan sejumlah alat musik, membuat puisi. Untuk tetap menjaga bakatnya ini kemudian dia menempuh kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) jurusan Desain. Nama Dik Doang makin melejit setelah dia membuat desain beberapa desain sampul kaset sejumlah musisi seperti  Atiek CB, Chrisye, Broery Pesulima, Nike Ardilla, Ebiet G. Ade, Koes Plus dan AB Three.

Tahun 1997, pria kelahiran  21 September 1968, mencoba membuat lagu dan akhirnya tahun 1997 sukses  melansir single "Pulang". Ditahun yang sama dia meluncurkan album "Jangan Takut" dengan single hits "Pak Posku" dan "Digoda Waria".

Dialbum ini, Dik Doank bernyanyi "lepas", tanpa beban. Kebiasaannya yang kritis dia tumpahkan dalam sejumlah lirik lagunya dialbum ini, misalkan dalam "Prakata", "Jangan Takut", dan Vespa Yellow Tai". Dalam "Jangan Takut" misalnya  Dik Doank menceritakan  pengalaman yang sering dialami banyak orang tentang sok berkuasanya orang "besar" yang punya jabatan, kadang orang kecil ditakut-takuti dengan simbol-simbol militerisme.   Juga dalam "Vespa Yellow Tai"  yang mengisahkan  hobby Dik Doank yang suka  naik vespa dan  melihat banyak fenomena di jalan; aksi mahasiswa, tawuran, hingga belum berjalannya sistem pendidikan yang hanya mencetak orang pintar tapi tak berakhlak.  

Vespaku berwarna Yellow tai terhenti seketika didepan jalanan/ ada perkelahian pelajar membabibuta lemparkan amarah/ lemparkan resah/ lemparkan semua semua ke jalan-jalan adakah resah di bangku sekolah...

Dari sisi musikal, penggarapan album ini sudah rapi. Namun sayang,  karakter suara Dik Doang tidak "keluar" dan terkesan biasa-biasa saja. Mungkin saja ini merupakan gaya bernyanyi dengan "bertutur"  yang kerap menjadi  ciri khas Dik Doank, namun model seperti ini sudah banyak penyanyi yang melakukannya.


Yang tidak kalah menarik adalah, selain lagunya yang dibuat sendiri, Dik Doank juga merancang sampul kaset "Jangan Takut". Sesuai dengan nama albumnya, Dik Doank membuat ilustrasi sampul dengan menonjolkan wajah seseorang  dengan mimik takut.  Dik Doank pun mengkreasikan ide seni desainnya hingga ke dalam halaman sampul. Dik Doank sepertinya tidak "rela" membiarkan adanya ruang kosong " dalam " lembaran covernya. Agar cover terlihat menonjol, Dik Doank membuat dengan warna yang berani.

Hingga saat ini wajah Dik Doank sering kita jumpai, namun bukan untuk menyanyi, tetapi untuk membawakan sejumlah acara talkshow atau acara olah raga. Dik Doank pernah menjadi pembawa acara untuk acara siaran langsung piala dunia FIFA World Cup 2002 Korea-Jepang bersama Ucok Baba. Selain itu, berkat membintangi sebuah produk minuman penambah energi, Dik Doank dapat bertemu dan membintangi iklan yang sama dengan pemain bola asal Italia, Alessandro Del Piero. Pada tahun 2007, Dik Doank secara rutin tampil di televisi memandu acara "Selamat Pagi" di Trans 7 bersama Desy Ratnasari. Pada tahun 2008 mengisi acara europhoria 2008 yang di siarankan oleh RCTI saat berlangsung Euro 2008 di Austria dan Swiss.

Dik Doank sangat perduli dengan kehidupan dan lingkungan sosial. Di tempat tinggalnya, di kawasan Jurangmangu, Ciputat, Tangerang, Dik mendirikan sekolah bagi anak-anak kurang mampu, yang sulit untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Sekolah bertema alam tersebut diberi nama "Kandank Jurank Doank". Sekolah ini berawal dari keprihatinan Dik terhadap keterpurukan nasib pendidikan sebagian anak-anak Indonesia. Dik juga perduli dengan lingkungan sekitarnya. Setiap minggu, Dik mengadakan diskusi dengan warga di lingkungan rumahnya, sebagai perwujudan kepedulian terhadap lingkungan.

Sejak tahun 2004, Dik Doank mendirikan "Yayasan Dik Doank". Yayasan ini menaungi sekolah yang memperkenalkan pendidikan dan mengembangkan bakat anak-anak. Melalui sekolah ini, Dik juga mencoba memberi bekal bermain sepak bola kepada anak-anak.

Meski kini Dik Doank tidak lagi berkiprah di dunia musik, namun namanya sudah tercatat dalam sejarah musik Indonesia. Dik Doank mungkin menempuh cara lain dalam "berjuang", yang tidak hanya lewat musik. Makanya, Dik Doank mendirikan Kandank Jurank Doank, sebuah sekolah alam yang berupaya mencetak generasi baru menjadi lebih punya hati dan lebih mencintai alam. Sukses selalu buat Dik Doank [lyz-cinmi/foto:musica]

comments powered by Disqus