Di Album "Sendiri", Chrisye Mulai Berani Keluar dari Pakem

Penyanyi Chrisye dikenal sebagai penyanyi yang memiliki suara khas. Sepanjang kariernya lebih dari 40 tahun, pemilik nama lengkap Chrismansyah Rahadi ini sudah  menghasilkan ratusan lagu bagus yang menjadi hits dan selalu dinyanyikan banyak orang  hingga kini.

Sejak kecil Chrisye memang sudah total menyerahkan hidupnya untuk musik.   Totalitas inilah yang akhirnya melahirkan karya-karya fenomenal yang banyak dinikmati masyarakat Indonesia (juga luar negeri) hingga sekarang, seperti "Lilin-Lilin Kecil", "Sabda Alam", "Hip Hip Hura", "Angin Malam", "Serasa", dan "Cintaku"

Namun kesuksesan Chrisye tidak lepas dari kerjasamanya dengan pihak lain. Baik pencipta lagu, sound engineers, juga music director yang menjadikan  keseluruh aransemen lagu menjadi sangat  enak untuk nikmati.  Sepanjang karir Chrisye kita mengenal Eros Djarot yang banyak memasok lagu-lagu berkualitas, terutama yang memiliki lirik romantis. Kemudian Jockie Suprayogi yang menimpali lagu Chrisye dengan alunan piano yang khas, kemudian  Ian Antono yang memberikan sentuhan apik melalui permainan gitarnya, dan masih banyak lagi.
 
Pergaulan Chrisye yang luas dan  banyak bersentuhan dengan musisi lain yang berbakat mengasah keterampilannya mencipta lagu. Seperti diketahui, diawal karirnya Chrisye sering "nongkrong" bersama anak-anak menteng, seperti keluarga Nasution (Debby, Keenan),  Ponco Sutowo dan masih banyak lagi.  Saat itu, Chrisye bukan hanya  bernyayi namun juga memainkan bass dalam mengiringi band yang dibentuknya. Salah satu band yang sempat dibuat Chrisye bersama dengan putra proklamator Soekarno, Guruh Soekarnoputera, bernama Gipsy Band.

Era 80-an, bisa dibilang menjadi jaman emas Chrisye. Album Chrisye yang meluncur tahun itu tercatat 11 album,  yakni "Puspa Indah (1980)", "Pantulan Cita (1981)", "Resesi (1983)", "Metropolitan (1984)", "Nona (1984)", "Sendiri (1984), "Aku Cinta Dia (1985), "Hip Hip Hura (1985)","Nona Lisa (1986)","Jumpa Pertama (1988), dan "Pergilah Kasih (1989)".

Kabarnya,  usai "meledak"nya album "Resesi", "Metropolitan", dan "Nona", Chrisye ingin mencari warna baru musiknya.  Untuk itu Chrisye menyudahi kerjasama dengan musisi ternama Eros dan Yockie, dan kemudian tanpa sengaja bertemu dengan Addie MS. Addie MS sendiri saat itu bisa dibilang "anak bawang" dari lingkungan pergaulan musisi  "anak Menteng".  Addie MS yang alumnus SMA 3 Setia Budi memang kerap "nongkrong" di Jl Pegangsaan,  rumah kediaman keluarga  Nasution.  Malah, salah seorang anggota keluar musisi itu, Keenan Nasution, mengajak Addie MS ikutan menggarap album "Nuansa Bening". Nama Addie MS mulai menanjak saat dia dipilih menjadi salah seorang music director ajang "Lomba Cipta Lagu Remaja" yang dibesut Radio Anak Muda, Prambors.  Tidak hanya itu, Addie MS juga dipercaya menangani musik album Vina Panduwinata.

Berdasarkan referensi itulah Chrisye memilih Addie MS  untuk menjadi  partner  sebagai music director di albumnya "Sendiri". Kala itu Addie MS sempat gugup dipilih untuk ikutan menggarap album "Sang Maestro Musik Pop" ini. "Iya, saya mantap banget milih kamu," kata Chrisye seperti dituturkan dalam buku "Chrisye, Sebuah Memoar Musikal" karya Alberthiene Endah. "Tapi, saya bukan apa-apa dibanding Eros dan Yockie," kata Addie MS.  Chrisye tak bergeming dan tetap memilih Addie MS.

Kejutan pun terjadi, penggarapan album "Sendiri' Berjalan lancar. Ada 10 lagu yang disodorkan dalam album itu, "Kisah Insani", "Hatimu & Hatiku", "Sendiri", "Windi", "Lestariku", "Dekadensi", "Malu", "Wanita", "Cemburu", "Aku dan Dia" .

Addie MS yang sudah paham karakter vokal Chrisye tidak melakukan banyak hal untuk merobaknya."Mas Chrisye sudah memiliki Cahaya, dalam suara dan gaya menyanyi. Jangan dirusak  lagi dengan aransemen yang mengubur," Kata Addie MS.

Untuk itu Addie menawarkan aransemen musik, yang sebelumnya tidak lazim, yakni dengan memasukan unsur alat musik tiup, english horn dan obo. Saat Chrisye menyetujuinya, Addie MS langsung mengajak Heidi Awuy untuk Harpa, Yudhianto untuk English horn dan Obo, serta "segerombolan" pemain String ; Suryati Supilin, Su Yin, Edo, Kwang Tju dan Zulkifli. Tidak ketinggalan Addie MS menggandeng Bagoes AA untuk menggarap kesemua musiknya.

Hasilnya? Album ini meledak di pasaran dan Chrisye memperoleh penghargaan BASF Award.

Addie MS memang tidak banyak memberikan sentuhan musikal dalam album "Sendiri" ini. Chrisye tetap bernyanyi seperti sebelumnya, simak saja dalam lagu "Dekadensi",  yang syarat dengan kritik sosial. Kemudian "Kisah Insani" yang sangat romantis, apalagi Chrisye  berduet dengan Vina Panduwinata.  Begitu juga dengan "Windi" yang dibawakan dengan sangat nge-pop dengan lirik ceria, mirip dengan lagu "Lenny" di album "Resesi".

Dengan backgroud pemain piano, Addie MS mencoba mengekplorasi skill-nya dalam sejumlah lagu-lagu Chrisye, seperti dalam tembang "Hatimu & Hatiku", "Malu", "Wanita", dan "Cemburu". Lagu yang liriknya bagus semua itu pun menjadi makin bagus dengan totalitas penggarapan musiknya oleh Addie MS, dan Bagoes AA. Dia juga kadang memasukan unsur "Orchestra" hingga menjadikan unsur nada dalam lagu Chrisye menjadi dinamis.

Tidak kalah menarik dalam album ini,  lagu besutan Guruh  Soekarnopoetra bertitel "Sendiri" digarap dengan gaya musik progresif ala Gipsy Band. Unsur piano yang  dimainkan dengan sangat baik oleh Addie MS mendominasi lagu dan  menjadikan lagu ini memiliki unsur "magis".   

Yang menarik, saat penggarapan album ini Chrisye pernah berceloteh bahwa Addie MS telah memberikan masukan penting dalam karir bermusiknya.  Chrisye mengaku hampir terjebak dalam arus nuansa "art rock" seperti dalam album-album sebelumnya. Untungnya Addie MS memberikan masukan bahwa karakter suara dan gaya bernyanyi harus disikapi dengan sabar, karena itu menjadi ciri dan karakter yang sudah melekat pada diri Chrisye. [lyz/foto: musica]

comments powered by Disqus