Sakura, Mendobrak Mainstream Lagu Indonesia Era 80-an

Jangan pernah bicara musik Pop Indonesia Era 80an jika tidak menyebut nama Fariz Rustam Munaf atau yang lebih dikenal dengan Fariz RM.  Ya, musisi kelahiran Jakarta 5 Januari 1959 ini terkenal piawai mencipta lagu. Banyak lagu ciptaannya yang menjadi Top Ten pada tangga lagu Indonesia kala itu. Bakat bermusiknya memang sudah kelihatan sejak belia, usia 12 tahun. Maklum, Fariz merupakan  anak dari Hj. Anna Reijnenberg  yang juga guru les piano. Selain itu, Fariz juga belajar piano pada Sunarto Sunaryo dan juga Prof. Charlotte Sutrisno JP.

Lingkungan bermainnya juga turut mengasah bakat Faiz (panggilan Fariz RM) di lingkungan anak Menteng, seperti Debby dan Odink Nasution. Karir bermusiknya makin menanjak setelah mengikuti Lomba   Cipta Lagu Remaja yang digelar radio Prambors bersama sejumlah temannya di SMA 3 Jakarta, seperti Adjie Soetama, Raidy Noor, Adie MS, dan Ikang Fawzi.

Album Fariz kedua bertitel SAKURA  yang dirilis tahun 1980, langsung melejitkan karir bermusik Faiz dan menggelorakan jiwa bermusik untuk terus aktif menciptakan tembang-tembang andalan. Album Sakura terdiri dari sembilan lagu ; Sakura, Selangkah Keseberang, Belenggu (Perjalanan), Semusim, Nada Cinta, Mega Bhuana, Suasana (Yang Ada), Cermin Noda, dan Malam Kesembilan.

Setahun sebelum album ini muncul, sebetulnya Fariz sudah menelurkan satu album bertitel "Selangkah Keseberang". Perusahaan label "Pramaqua"  yang menggarap album tersebut konon terlalu lama membuat kalkulasi bisnis. Mereka disebutkan, ragu dengan gaya musik yang diusung Fariz. Dan memang, musiknya  beda dengan musik-musik pasaran saat itu apa bisa diterima pasar. Maklum kala itu dunia musik Indonesia sedang diserbu musik cengeng  berirama mendayu-dayu. Dan diluar dugaan, Fariz bisa membuktikan bahwa musik diluar mainstream kala itu ternyata bisa juga diterima telinga pencinta musik Indonesia.  

Sesuai dengan titel albumnya, tembang "Sakura" diposisikan paling awal dalam album ini.  Dan betul, lagu ini melejitkan nama Fariz RM dan menjadikan album ini masterpiece, sebagai album yang layak dikoleksi oleh pecinta musik Indonesia.

Senada cinta bersemi Diantara kita
Menyandang anggunnya Peranan jiwa asmara
Terlanjut untuk terhenti Dijalan yang tekah tertempuh Semenjak dini
Sehidup semati ...


Meski beryair cinta, namun penggarapan musiknya jauh dari kesan cengeng. Irama pop yang diusungnya memang beda. Fariz memang pandai memainkan loop-loop ringan dari intonasi nada yang digarapnya. Suara yang lembut dan intonasi stabil saat membawakan nada tinggi, plus alunan suara dalam falseto-nya menjadi ciri khas Fariz.

Lagu Sakura ini juga yang membuat kepincut kakak dari bos Pertamina kala itu, Ponco Sutowo, yang kebetulan akan membuat sebuah film layar lebar. Rupanya dia tertarik dengan warna musik Fariz RM dan meminta Fariz untuk membuat sound track dari film yang akan digarapnya. Judul filmya adalah "Sakura Dalam Pelukan" dengan pemain utama seorang tokoh yang namanya saat itu lagi ngetop, yaitu Liem Swie King, jago bulutangkis yang sudah beberapa kali merebut juara All England. Namun sayang, Film tersebut tidak selaris lagunya.

Duet dengan penyanyi Anita Carolina M menjadi duet yang pas dalam tembang "Malam Kesembilan" yang digarap dengan nada yang Jazzy. Irama easylistening lagu ini yang diikuti dengan teriakan false-nya yang stabil, plus perkusi yang mengiring menjadikan musik yang "sulit" semakin enak untuk dinikmati.

Tembang "Selangkah Keseberang" digarap serius oleh Fariz. Intronya yang Jazzy, plus kombinasi elektrik piano pada intro menghasilkan musik berciri khas Fariz. Di lagu ini kita bersama-sama bisa menilai kemampuan Fariz dalam mencipta lagu-lagu yang bagus. Dan memang, dalam proses penggarapan album ini Farizlah yang memainkan alat musik seperti drum, piano, gitar, bas dan kibor.

Perjalanan bermusik Faiz memang panjang dan berliku. Beberapa kali membentuk band, seperti Transs, Symphony, Wow, GIF dan bersolo karir semakin membentuk karakter bermusiknya. Tidak hanya itu, proyek bermusiknya juga banyak, seperti membantu band Gank Pegangsaan, menjadi penata musik, membuat soundtrack, duet hingga merambah kedunia Film.

Sifat kerja kerasnya Fariz membuat suami dari Oneng Diana Riyadini, mantan peragawati asal Semarang, pernah membuatnya terjerembab dalam penggunaan Obat-obat terlarang dan sempat mendekam dalam rumah tahanan Cipinang. Lepas permasalahannya itu, sepertinya Fariz RM kini sudah lebih kalem dan bijak menyikapi hidup.   Publik pecinta musik Indonesia masih dan selalu menanti karya-karya terbaru dari Fariz RM. Hayo berkarya lagi Bang Faiz... [lysthano/foto:akurama record]
comments powered by Disqus