Nina Bobo versi Lain dari Lies Embarsari

Bisa dibilang, hampir semua orang mengetahui lagu anak-anak yang berjudul "Nina Bobo". Ya, lagu yang disebut-sebut sebagai "Indonesian Lullaby" ini, era 70-an  pernah dinyanyikan Lies Embarsari. Dalam iringan orkes asuhan musisi Zaenal Arifin, "Zaenal Combo", dibantu Violist Idris Sardi, lagu ini dinyanyikan dengan sangat baik. Tidak hanya itu, "Nina Bobo" juga dijadikan judul dari album  yang diproduksi PT Remaco - Jakarta.

Proyek garapan  zaenal Arifin ini  bisa dibilang fenomenal. Pasalnya "ide liar" memproduksi kembali lagu-lagu daerah dan diaransement ulang, memang belum pernah ada yang melakukan. Tentu saja, lagu-lagu lawas, yang kadang tidak jelas siapa pengarangnya, itu diracik sedemikian rupa sehingga terdengar sangat beda. Silakan dengarkan lagu "Nina Bobo" yang  diunggulkan dalam urutan pertama di album ini. Berkat sentuhan Zaenal Arifin dan ketrampilan mengeksplorasi nada oleh Idris Sardi, tembang ini menjadi nyaman didengar.

Vokal Lies yang merdu dan jelas, plus iringan musik bertempo slow dipadu dengan suara gesekan violin Idris Sardi yang mempesona, nuansa Nina Bobo terasa lain.  Selain musiknya yang apik, lirik lagu "Nina Bobo" versi Lies Embarsari juga beda dengan lirik  yang beredar sekarang. Penggalan lirik "mengancam" seperti /Kalau tidak bobo digigit nyamuk/ tidak terdengar dalam tembang ini.
 
Tak bisa dipungkiri, musik garapan Zaenal Arifin ini sedikit banyak dipengaruhi  musik mainstream jaman itu yang didominasi grup musik legendaris asal Inggris, The Beatles. Aliran musik jenis ini bisa disimak mulai dari tembang "Ole-ole Bandung" hingga "Burung Kaka Tua". Nuansa The Beatles sangat jelas terdengar dari gaya bermain sang gitaris, pukulan drum hingga backing vocal.

Dari delapan lagu yang disodorkan, dua lagu digarap sebagai musik instrumental, yakni Sepasang mata Bola dan  Tandjung Tjina. [lyz/foto:koleksi-pribadi]

 

Track list
1. Nina Bobo
2. Ole-ole Bandung
3. Burung Kaka Tua
4. Sepasang Mata Bola
5. Waktu Hujan Sore-sore
6. O Ina Nikeke
7. Auto A.P.D.
8. Tandjung Tjina
comments powered by Disqus