PAYUNG TEDUH - RUANG TUNGGU


Melalui penantian yang cukup panjang, 5 tahun, band Payung Teduh akhirnya meluncurkan album anyar bertitel "Ruang Tunggu". Kabarnya, album ini merupakan karya terakhir Payung Teduh bersama salah satu personelnya,pemilik nama pengkap Mohammad Istiqomah Djamad atau yang sering dipanggil "Is". 

"Memang ini merupakan album terakhir Payung Teduh bersama saya, namun Payung Teduh tetap akan berjalan. Payung Teduh harus tetap berkarya dan menyongsong ruang tunggu-ruang tunggu dengan penuh kejutan," tutur Is di Jakarta, Selasa.  

Dikatakan Is, album "Ruang Tunggu" berisi 9 lagu dan menjadi album ketiga Payung Teduh setelah "Dunia Batas" (2012) dan "Self Titled" (2010). >> selanjutnya

Klimaks Payung Teduh di “Ruang Tunggu”


Di panggung musik Indonesia, nama grup Payung Teduh sudah cukup dikenal. Lewat album perdananya bertajuk "Dunia Batas" tahun 2011 nama Payung Teduh langsung  dikenal seantero negeri dan bahkan manca negara.  Bisa dibilang, lewat album pertamanya, Payung Teduh langsung "mencetak" lagu-lagu berkualitas yang digemari banyak orang, seperti misalnya "Berdua Saja", "Menuju Senja",  dan "Di Ujung Malam".

Lebih dari lima tahun tidak muncul, akhir tahun 2017 lalu, Band yang dimotori Mohammad Istiqamah Djamad (vokal), Comi Aziz Kariko (Contra Bass), Ivan Penwyn (Gitar), dan 
Alejandro "Cito" Saksakame (Drum) meluncurkan album baru bertajuk "Ruang Tunggu". Berisi 9 lagu, album ini melahirkan hits lagu berjudul "Akad" yang sempat merajai tangga lagu disejumlah Radio di Indonesia.

Masih seperti album pertama, "Ruang Tunggu" seperti belum mau beranjak dari tipikal Payung Teduh yang dijuluki "sang spesialis" pembuat lagu  melankolis. Dan memang inilah ciri yang kuat dari grup band eks mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia ini.

Dalam lagu andalan mereka, "Akad", Is  memberikan sentuhan personal lewat intro dengan suara "Terompet" yang dibawakan dengan apik oleh Gatot Santoso.  Kolaborasi nada-nada yang Jazzy berpadu dengan nuansa "orchestra", makin membuat lagu ini unik dan enak didengar. Sang vokalis tidak perlu bersusah payah memainkan intonasi, Toh dalam balutan nada yang dimainkan dengan kompak, Payung Teduh seperti ingin memberikan "ruang" kepada siapapun yang ingin membawakan lagu ini dengan mudah. 

Selain musiknya yang enak didengar dan mudah dimainkan, tidak bisa dipungkiri kekuatan Payung Teduh juga  terletak pada lirik/syair lagunya. Selain "Akad", Tembang "Di atas meja", "Selalu Muda", "Mari Bercerita", "Muram" hingga lagu terakhir, "Kerinduan" dibanjiri dengan kata-kata puitis, dan kadang bermakna eksplisit. 

Di atas meja rindu itu hilang/Dalam kata-kata/Sebentar lagi kita saling lupa.

Kita menjelma pagi dingin yang dipayungi kabut/Tak bisa lagi bercerita apa adanya

Mengapa takut pada lara/ Sementara semua rasa bisa kita cipta/Akan selalu ada tenang Di sela-sela gelisah yang menunggu reda/ Berdua menikmati pelukan diujung waktu/ Sudilah kau temani diriku.


Dalam beragam catatan, musik yang dibawakan Payung Teduh   dimasukan dalam  genre; hip hop, rock, ragaee. Tentu saja ini menjadi hak preogatif yang menilai, namun yang pasti Is dan kawan-kawan tidak menginginkan musiknya ribet dan membuat penikmatnya "berfikir" tentang enak-tidaknya nada yang dimainkan. Is bersama Payung Teduh nya ingin menyodorkan musik yang bercerita. Dengan model musiknya yang "syahdu" dan liriknya yang puitis, Payung Teduh ternyata sanggup  menghiptonis pendengaran para pecinta musik tanah air. 

Seperti halnya dialbum "Ruang Tunggu", Is yang menjadi motor Payung Teduh seakan ingin bebas menterjemahkan nada-nada  menjadi berbagai ragam bentuk. Kita bisa mendengarkan alunan keroncong, jazz hingga reggae. Payung Teduh juga asyik mengeksplorasi lirik kedalam bahasa yang puitis dan mudah diterima para pendengarnya. Tidak hanya itu, lirik yang bersifat dialog, seperti "bersahut-sahutan"  juga menjadi hal yang menarik seperti yang terdapat dalam lagu "Mari Bercerita", "Sisa Kebahagiaan".

Keberhasilan Payung Teduh tentu tidak bisa dilepaskan dari kekompakkan para personelnya. Eksistensi Payung Teduh dialbum ini, menurut penulis berada dalam puncaknya. Payung Teduh sukses membuat track-record mencipta lagu dalam trend yang sebetulnya tidak baru. Namun karena kelihaiannya meracik dan mengkombinasikan unsur-unsur nada menjadi  lebih variatif inilah yang menjadikan Payung Teduh berhasil "membelah"  kebekuan pergerakan musik pop tanah air. 

Sebelumnya, model lagu seperti ini, yang memberikan nuansa musik pada lirik puisi (musikalisasi puisi), pernah dilakukan oleh band pengiring album puisi "Hujan Bulan Juni" yang dipersembahkan oleh penyair yang juga dosen, Sapardi Djoko Damono. Payung Teduh sebagai band pengiring Teater Pagupon yang ada dikampus FIB UI, seperti ingin melanjutkan estafet model bermusik yang memberikan kekuatan musiknya pada lirik.  Namun sepertinya langkah ini agak tersendat ketika Is, di akhir tahun lalu, menyatakan mundur dari band yang sudah dibesarkannya ini. 

Sebagai album, yang menurut penulis, salah satu yang terbaik di tahun 2017, "Ruang Tunggu" sangat layak dibeli dan dikoleksi. Meski patut disayangkan, dalam hal kemasan kurang menarik karena menjadi "bundling" saat kita membeli paket Ayam dijaringan resto ayam terbesar di Indonesia. Tetap berkarya Is, terus bergerak Payung Teduh. [lysthano, penikmat musik dan periset  di Historika Indonesia]