PAYUNG TEDUH - DUNIA BATAS


Seperti namanya bandnya "Payung Teduh" gaya bermusik band yang diperkuat personel ; Mohammad Istiqamah Djamad (IS), Comi Aziz Kariko (Comi), Ivan Penwyn (Ivan), dan Alejandro Saksakame (Cito) juga mencoba "meneduhkan". Ya, balutan permainan musik yang menonjolkan unsur keroncong menjadi ciri dan karakter band yang personelnya merupakan almamater FIB Universitas Indonesia.

Payung Teduh, Sukses Mengekplorasi Nilai Keroncong

Seperti namanya bandnya "Payung Teduh" gaya bermusik band  yang diperkuat personel ; Mohammad Istiqamah Djamad (IS), Comi Aziz Kariko (Comi),  Ivan Penwyn (Ivan), dan Alejandro Saksakame (Cito) juga mencoba "meneduhkan". Ya, balutan  permainan musik yang menonjolkan unsur  keroncong menjadi ciri dan karakter  band yang personelnya merupakan almamater FIB Universitas Indonesia.

Sebagian orang bisa jadi kaget sembari mencibir dengan apa yang ditempuh "Payung Teduh" dengan gaya musiknya yang old-fashioned alias kuno. Apakah musiknya bisa diterima digenerasi Slank ataupun Noah? Dan nyatanya, Payung Teduh sukses mengemas lagu-lagunya menjadi tidak biasa, dan sangat layak di dengar.  

Gaya musik oleh anak muda, yang mengeksplorasi musik jaduls sebetulnya pernah dimainkan  oleh band "Naif".  Namun, gaya musik jadulsnya tidak dominan. Naif bisa jadi belum berani berada pada "garis lurus" konsistensi keroncongan. Namun, memang akhirnya Naif bisa mengemas atau mengambil sebagian dari nilai keroncong dan kemudian disesuaikan dengan musik anak muda saat ini.

Mungkin benar, apa kata Nietzsche dalam "Beyond Good and Evil"; In music the passions enjoy themselves. Memainkan musik bisa terasa lebih "hidup" karena didukung dan didaulat dengan kuatnya passion dari yang memainkannya. Keberanian "Payung Teduh"  menempuh  jalan musik yang kata orang kuno ini patut diacungi Jempol.

Nah, di album kedua bertajuk "Dunia Batas", Payung Teduh menampilkan permainan alat musik yang mumpuni. Dan didukung dengan  karakter vokal yang   pas menjadikan apa yang dibawakan Payung Teduh menjadi lebih hidup. Tidak cukup itu, permainan lirik yang puitis disertai "pemenggalan" yang ekstrim  menjadi nilai postif yang bisa jadi sangat sulit diikuti oleh musisi lain. Bila kita mendengarkannya seakan antara musik, lirik dan penyanyi menyatu dalam passion tadi.

Hampir kesemua lagunya  memiliki  nuansa musiknya yang sama.  Namun, berkat olahan para kru Payung Teduh menjadi sangat enak didengar. Mulai dari  tembang "Berdua Saja", "Menuju Senja", "Untuk Perempuan yang Sedang Dipelukan, Rahasia, Angin Pujaan Hujan, Di Ujung Malam,  Resan, dan Biarkan.

Kepiawaian mengkolaborasikan Gitar dan Bas yang menjadi base musik keroncong, dilakukan dengan sangat baik oleh Payung Teduh dalam lagu "Bedua Saja", "Untuk Perempuan yang Sedang di Pelukan", "Diujung Malam", "Resah", dan "Biarkan".

Payung Teduh  juga tidak ragu-ragu "membubuhi"  lagunya dengan alunan suara Terompet, Violin dan Accordeon sehingga kesan lagu jadul-nya kena.  Untuk permainan drum, Payung Teduh mengemasnya dalam beat-beat ringan yang dikolaborasikan dengan gitar, misalkan   dalam "Untuk Perempuan yang sedang di Pelukan" dimana Payung Teduh  juga memberikan ruang-ruang "kosong" dalam bait nadanya guna menonjolkan beat-beat gitar dan drum.

Bagi Anda yang menyukai musik-musik beralunan "Teduh", album ini sangat layak dimasukan dalam daftar koleksi Anda. [lyz/foto:PayungTeduh]