“Siapa Bilang Sayang”: Album Masterpiece-nya Margie Segers

Dikancah perjalanan musik Jazz tanah air, nama  Margie Segers seakan tidak bisa dipisahkan. Dia seakan menjadi Icon penyanyi Jazz yang mewarnai industri musik Indonesia, era 70-an. Kepiawaiannya membawakan lagu Jazz patut dibanggakan, bahkan legenda musisi jazz Indonesia, Jack Lesmana, memuji suara Mergie  yang bening dan berkarakter. Tak salah bila dialbum “Siapa Bilang  Sayang”, Jack Lesmana menggandeng Margie Segers untuk melantunkan sejumlah tembang hasil karya  beberapa musisi Jazz  tanah air diantaranya  A Ryanto, Charles Mercys, Bing Slamet, Narto Sabdo, dan Jack Lesmana sendiri.

Lagu pertama yang disodorkan di album keluaran tahun 1975 adalah   “Semua Bilang Sayang”  hasil karya musisi pentolan Band The Mercys, Charles Mercy. Aransemen musisi Jack Lesmana memang dahsyat. Lagu  yang aslinya melankolis ini diubah menjadi riang dengan komposisi yang penuh dengan warna Jazz. Apalagi yang melantunkannya, Mergie Segers, memiliki karakter suara yang bagus dan memang pas untuk lagu ini, terbukti dia membawakannya begitu enjoy abis. Dibantu oleh sejumlah musisi ternama diantaranya ; Jopie Item (gitar), Perry Patiselano (bass guitar), Wimpi (bass), Alex (piano), dan Jack Lesmana (trombone)  lagu ini patut diakui menjadi semakin menarik.

Tembang lokal asal Jawa Tengah “Gambang Suling” karya  Narto Sabdo pun diubah menjadi Jazzy dengan nada instrumental. Begitu juga tembang beraroma melayu “Selayang Pandang” karya musisi besar serba bisa, dan juga pemain film, Bing Slamet,  menjadi lebih easy listening dan lebih megah karena dikolaborasi dengan paduan vocal/suara. Tak kalah menariknya, dialbum ini Mergie Segers juga membawakan lagu Ambon, “Tanase” yang diubah apik dan dipenuhi dengan nuansa Jazz yang kental. Pencipta lagu tersebut, Harry Nurdi, mungkin tidak menyangka jika lagunya berubah menjadi lebih menarik. Dialbum ini juga dia menyumbangkan 2 lagu lainnya, yakni ; “Kesepian” dan “Kasih Mesra” .

Sejumlah lagu bernada instrumental di album ini yakni   “Tak Kusangka”,  “Bunga Nirwana” (Jack Lesmana), “Maafkan Daku” (A. Usman), “Menanti”, “Ku Kenang Bulan April” (A Ryanto), dan “Selayang Pandang” (Bing Slamet). Jadi bisa dibayangkan, lagu-lagu ini saat bawakan musisi sekaliber Jack Lesmana, Jopie Item, Trisno (Tenor Sax), Wimpi, dan Karim (Drum).  
 
Mendengar album ini, seakan kita tidak percaya bahwa   ternyata sejak dulu musik Indonesia (dalam hal ini Jazz) bisa disejajarkan dengan musisi jazz dunia, sebut saja musisi Jazz saat ini  seperti Lee Ritenaour , Bob James, hingga Dave Grusin.

Penulis beranggapan, sejarah Jazz Indonesia begitu menakjubkan, karena pondasi yang dibangun musisi era 70-an  kini menjadi landasan  musisi tanah air. Bisa dibilang, mereka sudah melakukan lompatan sejarah bermusik, terlepas dari pengaruh musisi Jazz dunia, dengan menjadikan Jazz lebih moderen dan enak dinikmati. Apalagi nuansa local  beberapa tembang ikut dilibatkan.  Hal ini pula yang diharapkan Jack dan Nien Lesmana saat peluncuran album ini. 7 November 1975 di Jakarta. “Harapan saya agar tujuan mereka (para musisi-pen) dalam mempopulerkan jenis musik yang kami ketengahkan ini mendapat sambutan yang hangat dan tumbuh subur dikalangan penggemar Jazz”.

Tentu semua usaha para musisi  tidak ada apa-apanya jika  tidak didukung perusahaan rekamanan, seperti halnya yang dilakukan “Hidajat and Co”.  Perusahaan rekaman ini memang memiliki andil besar dalam perkembangan  musik Jazz tanah air, hingga saat ini. Jika Anda sering ke toko kaset, coba saja sambangi rak segmen JAZZ dan cari album Jazz Indonesia Jadul (Jaman Dulu). Ya, “Hidajat and Co” kembali merekam ulang sejumlah lagu-lagu  bernuansa Jazz, tapi untuk album Mergie Segers ini penulis belum pernah menjumpai. Ah, semoga saja Hidajat and Co tergerak merekam ulang dalam jumlah banyak musisi Jazz Indonesia dahulu, sehingga Anda bisa ikut memiliki dan menikmatinya. [lysthano/ foto: koleksi pribadi]


 
comments powered by Disqus