ADEGAN: Eksperimen Musisi Jazz dan Rock Era 90-an

Tahun 1992  menjadi waktu bersejarah yang tidak bisa dilupakan sejumlah musisi kondang seperti: Indra Lesmana, Gilang Ramadhan, Hari Muki, Donny Suhendra, dan AS Mates. Ya, tahun disaat penulis gandrung dengan program persiapan ujian  SMA, mereka yang tergabung dalam ADEGAN meluncurkan album pertama dan terakhir bertitel “Selangkah di Depan”. Untungnya, hits mereka “Satu Kata” sempat merajai tangga lagu di sejumlah radio anak muda saat itu, diantaranya  Prambos.

Nah, bila Anda ingin mengetahui bagaimana  bentuk musik rock yang dipadu Jazz ala ADEGAN, nah bisa dibayangkan kan ??  keren abis!  Nah dari sini memang sangat terlihat  dan terbukti bahwa mereka adalah musisi handal yang patut diacungi jempol.

Tembang pembuka di album yang diproduksi Musica Studio ini adalah “Satu Kata” masih ingat liriknya ? Hanya satu kata/tiada sempat terucap/walau kita berjumpa dan saling menyapa/ Hanya satu kata/kembali karam di hati/walau  sering bicara sampai lupa waktu/Dimanaku harus mencari Sebuah kata yang hilang saat denganmu.

Tak salah memang, jutaan pasang telinga yang mendengar lagu yang liriknya dibuat  Wisnu Soeyono langsung memberi penilaian bagus. Hasil aransemen Gilang Ramadhan dibawakan secara lambat (slow) pada intro dan makin meninggi saat reff. Apalagi lengkingan vocalis Hari Mukti yang khas dan  berkarakter. Begitu juga dengan sentuhan  keyboard  Indra Lesmana yang begitu pas, sehingga masih terdengar sentuhan jazzy-nya.

Beda halnya dengan lagu berjudul  “Tujuh Belas Tahun” yang nge-beat. Hentakan drum Gilang Ramadhan dan cabikan gitar Donny Suhendra  seakan menenggelamkan  keterlibatan Indra Lesmana yang mencoba memberikan sentuhan Jazz. Apalagi dengan liriknya yang menggambarkan suasana anak ABG yang pertama kali merasakan  jatuh cinta; Tujuh belas tahun usiamu saat ini/Peganglah tanganku dan jangan dilepaskan/Kita terbang dan melayang putari dunia biar semua orang tahu bahwa kita bahagia…. Hal yang sama juga terdapat pada lagu “Perbedaan”, cuma saja unsur koor yang ditambahkan pada reff menjadikan lagu ini berbobot.

Nah, lagu yang penuh dengan nuansa Jazz bisa disimak pada “Biarkan saja” garapan Indra Lesmana. Meskipun penuh dengan alunan Jazz, namun sepertinya  Indra Lesmana mencoba “bijak” dengan tetap memasukan beat-beat rock.

Alunan berbau-bau rock ala Van Hallen bisa disimak pada “Ku Genggam Matahari”, “Dunia Jingga”, dan “Raksasa Jalanan”.  Pada tembang “Dunia Jingga” misalnya, sangat terlihat sekali eksperimentalist-nya  Indra Lesmana dalam bermusik. Ya, dia  coba memasukan unsur-unsur tekno dengan suara keyboardnya, menjadikan lagu semakin berbobot. Cabikan gitar Donny Suhendra yang meraung-raung mampu ditandingi dengan kecepatan tangan Indra Lesmana pada tuts.

Tak kalah menariknya pada tembang penutup yang juga menjadi judul album ini, “Selangkah Didepan”. Bisa dibilang,lagu ini merupakan pencapaian kolaborasi unik dari ADEGAN. Sifat-sifat ekploratif, ekperimental dan kolaboratif sangat jelas terlihat pada  lagu ini. Jangan-jangan ini merupakan “keinginan terpendam” dari para musisi  ADEGAN untuk menumpahkan Ide segenap rasa. Sayangnya kelanjutan dari karya lima anak muda ini tidak dilanjutkan lagi, bak  hilang ditelan bumi. Masing-masing kini berkiprah dengan jalannya, tentunya masih dibidang musik.   [lysthano/itunes]
comments powered by Disqus