Musisi Djaduk Ferianto Gelar Pameran Foto Musikal

Kamis, 20 Desember 2018


Musisi kontemporer Djaduk Ferianto memamerkan foto-foto hasil jepretannya.Tanpa peduli teknik fotografi, Djaduk seolah menangkap satu momen visual yang tak terulang sambil mengiringinya dengan unsur musikal yang selama ini digelutinya.  

Pameran foto bertajuk “Meretas Bunyi” itu digelar di Bentara Budaya Yogyakarta 15-23 Desember 2018. Ada 83 foto di ajang ini yang merekam berbagai kejadian di sekitar Djaduk sejak 2012.  

Mulai dari aktivitas keseharian di Yogyakarta seperti di pasar dan tempat cukur, lokasi alam eksotis di penjuru Nusantara, perjalanan ke kota metropolis New York dan Hamburg, atau suasana bermusik di dekat dedengkot grup musik Kua Etnika itu.

Djaduk bilang fotografi adalah dunia barunya. Soalnya, setelah mengenyam pendidikan formal seni rupa, ia terjun ke musik tradisi dan kontemporer, teater, hingga festival jazz. Kendati, saat tinggal di Jerman pada 1988, Djaduk pernah terobsesi pada satu kamera yang membuat dia bekerja sebagai pembantu agar bisa membeli kamera pertamanya itu.

“Saya tidak membatasi kategori foto.Cuek saja, ambil saja. Aku ora dong(tidak paham) teknik fotografi. Jangan-jangan karena enggak ngerti tekniknya, saya malah berani motret. Kalau ngerti, malah enggak berani,” tutur dia sebelum pembukaan pameran, Sabtu (15/12) malam.

Nyaris semua foto karya Djaduk dicetak hitam putih. Djaduk mengaku suka pada foto hitam putih sejak mengagumi karya fotografer Ali Said.

Melalui foto, Ali kerap mengabadikan aktivitas seni termasuk pentas Bengkel Teater WS Rendra dan pertunjukan tari Bagong Kussudiardja, ayah Djaduk.

“Foto hitam putih menyimpan misteri dan imaji yang sangat liar daripada foto berwarna. Lama-lama saya jatuh cinta pada foto hitam putih,” kata dia.

Dari semua foto Djaduk yang dipamerkan, hanya satu foto yang berwarna. Foto itu dipajang persis di tengah karya lain. Foto itu merekam suasana pedesaan di Nanggulan, Kulonprogo, dengan bias warna biru. “Foto ini diambil jam lima pagi,waktu mau motret Gunung Merapi,” kisahnya.

Beberapa foto yang dianggap menarik dan berkesan bagi Djaduk dicetak dalam ukuran besar, sekira 1,5 x 1 meter. Di pintu masuk ruangan, di dekat tulisan judul pameran, terpacak foto close-up wajah seorang pria. Djaduk menyebut, pria itu seorang tukang parkir di Maumere, Papua, yang semula memiliki jenggot sepanjang perut.

Foto ukuran besar lainnya menampilkan seorang joki mendorong pantat anak-anak agar bisa naik ke punggung kuda. Pada foto lain, terlihat anak-anak asyik bermain di sebuah kolam.

Djaduk juga meminta satu foto, meski berukuran kecil, dipasang di ujung panel sebagai penutup. Foto ini menampilkan sebuah gitar dengan senar yang putus. “Ini seperti nasib musisi,” selorohnya.

Menurut Djaduk,  ia memotret didorong suatu perpaduan rasa dan pikir  yang ia sebut sebagai “ngeng”. “Peristiwa yang mampir ke saya itu tidak bisa diulang.Ngeng saya mendorong, ini saya ambil (fotonya),” ujarnya.

Djaduk berkata, pergumulannya dengan musik berpengaruh terhadap aktivitasnya memotret. Saat memotret, seperti ada dialog antara yang visual dan yang musikal di alam rasa dan pikirannya.

“Foto-foto saya ini seakan bercerita, mengiringi peristiwa. Foto terasa berproses dalam musik seperti halnya ada ruang imaji dan gambar saat saya meng-compose musik. Saat memotret, ada proses ulang alik itu,” tuturnya.

Namun Djaduk membebaskan pemirsa foto-fotonya menikmati dan menafsirkan karyanya. “Semua punya ‘ngeng’-nya masing-masing,” kata dia. [gatra/c2/foto:bentarabudaya]

comments powered by Disqus
Tidak ada event minggu ini