Nelayan dan Musik Mahal Di Laut Jembrana

Kamis, 8 Februari 2018

Musik kini menjadi teman  yang tidak dibisa dilepaskan dari kehidupan nelayan Jembrana, Bali. Disaat melaut, khususnya saat menarik jaring, alunan musik dangdut menjadi syarat sekaligus penyemangat mereka bekerja. 

Menurut nelayan, seperti yang dilansir Antara,  musik dangdut menjadi penyemangat mereka menarik beban jaring yang berat, selain hiburan di tengah laut di mana yang terdengar hanya suara ombak, angin dan mesin perahu mereka.

"Seluruh perahu selerek disini pasti dilengkapi dengan peralatan sound system. Kalau perahu tidak ada musiknya, bisa-bisa tidak dapat anak buah saat melaut," kata Ainul Hakim, seorang nelayan dari Desa Pengambengan, Kecamatan Negara.

Menurut cerita-cerita para nelayan, peralatan untuk memutar musik yang dipasang di perahu selerek bukan sembarangan, tapi dari jenis yang berkualitas bagus dengan harga sampai puluhan juta rupiah.

Maskurin, seorang tukang panggung (sejenis nakhoda) perahu selerek mengatakan, pemasangan satu paket sound system di perahunya menghabiskan biaya sampai Rp40 juta.

"Itu pun masih ada rencana penambahan lagi, biar bunyi musik yang dihasilkan benar-benar dahsyat," kata Maskurin, yang berasal Dusun Munduk, Desa Pengambengan.

Sistem suara itu, menurut dia, merupakan hasil rakitan ahli elektronik lokal Desa Pengambengan, maupun Kota Negara.

"Rata-rata sound system perahu menghabiskan biaya Rp40 juta hingga Rp60 juta. Biaya sebesar itu sudah biasa di kalangan kami," katanya.

Beberapa nelayan Jembrana menuturkan para anak buah perahu selerek rela menyisihkan uang hasil tangkap ikan demi bisa menikmati musik saat melaut. Biasanya pemilik perahu lebih dulu mengongkosi biayanya, dan para anak buah perahu membayarnya dari pendapatan mereka.

Sebagai pilihan musik, para awal perahu selerek yang sandar di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan sebagian besar memilih musik dangdut dengan irama yang cepat dan keras.

"Kalau iramanya lambat percuma saja, kami tetap kurang semangat menarik jaring. Dangdutnya harus irama yang cepat seperti dangdut koplo atau campur-campur dengan rock," kata nelayan Madek Rahman.

Nelayan yang sudah belasan tahun menjadi anak buah perahu selerek itu mengatakan sound system yang terpasang harus menghasilkan bunyi yang mampu melawan suara ombak, angin serta mesin sehingga musik yang diputar bisa dinikmati. Menurut pengalamannya, harga satu sistem suara biasanya menentukan kualitas suara.

"Kalau yang murah meskipun keras tetap saja tidak bisa terdengar jelas karena suaranya pecah. Kalau mahal, volume tidak besar saja suaranya enak didengar," katanya.

Ahmad Atqo, yang pernah berkecimpung di penyewaan sound system mengakui, kualitas peralatan yang berhubungan dengan bunyi musik di perahu tidak ada yang murah, khususnya pada bagian speaker dan power.

"Di pasaran ada speaker yang harganya ratusan ribu sampai jutaan rupiah, seluruh perahu pasti menggunakan yang harga jutaan rupiah. Itu hanya untuk satu speaker, sementara ada berapa speaker di perahu tergantung selera masing-masing," katanya.

"Kalau yang lain seperti equalizer itu hanya aksesoris pelengkap untuk mengharmoniskan suara. Bagi nelayan yang paling utama adalah suara musik yang keras dengan daya jangkau suara yang jauh," katanya.

Kebiasaan memasang sistem suara yang ditenagai genset di perahu, menurut KH. Sya'rani Yasin, tokoh Desa Pengambengan yang semasa muda ikut melaut, berawal pergaulan nelayan lokal dengan nelayan dari Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, yang memang sering singgah dan sandar di desa tersebut.

"Perahu dari Muncar itu dilengkapi sound system. Mungkin merasa enak dan semangat melaut dengan iringan musik, sehingga ditiru nelayan dari sini," kata pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Pengambengan ini.

Saat hasil tangkapan ikan melimpah, perahu-perahu selerek berdatangan ke Pelabuhan Perikanan Nusantara bersama suara-suara meriah aneka musik dangdut dari sound system berbiaya mahal yang kini menjadi bagian dari tradisi nelayan perahu selerek di Kabupaten Jembrana.[antara/med/c2/foto:istimewa]

comments powered by Disqus