LIGRO Segera Rilis "Dictionary 3", Album Pamungkas Dari Serial Dictionary

Selasa, 24 Mei 2016

Ligro - Dictionary 3

LIGRO akan merilis "Dictionary 3", album ketiga sekaligus album terakhir dari serial Dictionary. Album ini akan diluncurkan dalam sebuah acara yang diadakan di Paviliun 28, Jakarta Selatan, pada hari Kamis (26/5).

Tema dictionary diambil dari suatu pengertian bahwa "musik" adalah "bahasa". LIGRO sebagai suatu kelompok musik dalam kreatifitasnya mengetengahkan suatu bahasa musik yang khas ala LIGRO, maka tema dictionary  mulai dari Dictionary 1 sampai 3 bisa diibaratkan sebagai "kamus" dari sejumlah "kosakata" bahasa musik LIGRO.  
                                                                                                     
Beberapa media melabeli LIGRO sebagai pengusung musik jazz, rock, dan etnik (Indonesia & India) yang diolah dengan cara pandang musik "kontemporer". Formasi LIGRO sendiri yang terdiri dari Gusti Hendy (Drum & Percussion), Adi Darmawan (Elect. Bass), dan Agam Hamzah (Elect. Guitar), dalam era musik modern biasa disebut sebagai “Trio Rock”. Sebagai contoh dari pelopor Trio Rock di era 70-an antara lain seperti Jimi Hendrix Experience atau The Cream (trio-nya Eric Clapton). Bedanya LIGRO tidak menyuguhkan vokal. 

LIGRO secara intens lebih mengembangkan eksplorasi instrumen dari masing-masing personilnya dalam bentuk komposisi dan improvisasi dengan gaya free form. Yaitu suatu gaya improvisasi yang sangat bebas, bahkan bisa dibilang ekstrim. Sehingga banyak  yang mengkategorikan musik LIGRO dalam jenis musik jazz rock free form. Bahkan ada yang menyebut metal jazz.

Bagi LIGRO sendiri penilaian media sesungguhnya tidaklah jauh berbeda dari apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh LIGRO dalam proses kreatifitasnya. Berbagai musik yang berkembang di era masa kini dari musik populer sampai musik kontemporer yang sangat serius, sudah tentu menjadi referensi dan pengaruh yang kuat bagi perkembangan musik LIGRO sendiri. 

Album Ligro Dictionary 3 berisi 5 komposisi, yaitu: 

  1. 20 th Century Collaseu
    Komposisi ini digarap bareng-bareng oleh LIGRO dengan menyadur dari  karya Oliver Messiaen (Quartet for the end of time) dan Anton Webern (Opus 28). Maksud dari komposisi ini adalah penggambaran secara collaseu dari musik kontemporer yang eksis di abad 20. Dua tokoh komponis yg karyanya disadur oleh LIGRO dianggap sebagai karya representatif mewakili musik kontemporer abad 20. Lagu ini dibuka dengan motif musik gaya minimalis-nya Steve Reich atau Philip Glass, kemudian diteruskan dengan gebrakan sound heavy metal tapi dengan susunan harmoni cluster. Bagian tengah diisi oleh solo gitar yang merupakan perpaduan antara improvisasi dan motif-motif pendek dari karya Oleiver Messiaen dan Anton Webern. Pada bagian ini drum dan bass mengiringi dan merespon secara dinamis improvisasi dari solo gitar.  Komposisi ini ditutup dengan unison dari drum, bass, dan gitar yang kembali diambil dari karya Oliver Messiaen.
  2. Lonely Planet
    Komposisi ini karya dari Adi Darmawan. Sesuai dengan judulnya lagu ini menggambarkan suatu tempat dengan suasana sepi, hening dan kontlempatif. Bass membuka komposisi ini dengan tempo lambat dan petikan arpegio yang halus dan dalam , kemudian gitar mengisi bagian ini dengan isian yang sarat dengan nada2 blues. Drum memberikan kesan ilustratif dengan hanya memberikan sentuhan2 yang halus pada simbal. Bagian berikut tempo masih tetap lambat dengan diisi melodi unison oleh bass dan gitar, akan tetapi drum masuk dengan “chaos” melawan tempo yang sedang berlangsung. Pada bagian ini hingga akhir fungsi gitar dan bass walaupun memainkan melodi unison menjadi pengiring solo drum.
  3. Tragic Hero
    Komposisi karya Adi Darmawan ini adalah pengekpresian dari rasa duka yang mendalam pada para musisi  yang jasa dan pengaruhnya begitu besar untuk dunia musik, akan tetapi mengalami nasib yang tragis di akhir hayatnya. Lagu ini dipersembahkan pada orang2 seperti Mozart, Beethoven, atau Jimi Hendrix dan Jaco Pastorious. Komposisi ini bisa disebut requiem (lagu duka untuk kematian), dari bagian pertama hingga akhir nada-nada bernuansa gelap, duka dan penuh misteri mengalun dalam bentuk komposisi dan improvisasi. Irama bass berjalan dengan tempo yang sangat lambat (ballad) dan pengulangan nada yang statis namun tetap berat dan padat. Sedangkan  dinamika dibangun dari volume terhalus hingga terkeras, dan pada puncaknya semua instrumen membentuk unison dalam tempo yang tetap lambat namun degan nada yang berat dan “massive”. 
  4. Bliker 4
    Kembali Adi Darmawan mengetengahkan serial komposisi bertajuk Bliker dan kali ini seri yang ke 4.  Komposisi ini berangkat dari ide progesi akord bernuansa jazz yang diolah dengan irama ganjil dan kompleks. Sementara itu melodi dimainkan oleh bass, sedangkan drum, piano dan gitar berfungsi sebagai pengiring. Pada gilirannya piano berimprovisasi dilanjutkan oleh gitar sampai pada dialog improvisasi semua intrumen. Pada lagu ini LIGRO mengundang bintang tamu seorang pianis muda sangat berbakat; Ade Irawan. 
  5. Pentagonal Krisis
    Komposisi penutup ini garapan bareng LIGRO. Didalam lagu ini LIGRO bereksplorasi dengan “Gitar Slendro” rancangan dan buatan Pra Budidarma (Krakatau). Pada nomer ini LIGRO sepenuhnya berimprovisasi total berdasarkan suasana, nuansa, dan spirit yang keluar dari nada-nada slendro.
comments powered by Disqus