Angklung Siap Dipentaskan di Jepang dan Korea

Minggu, 31 Mei 2015

Tokoh Angklung Nasional, Sam Udjo mengatakan, pada zaman pemerintahan Belanda, penggunaan alat musik angklung sempat dilarang. Alasan Belanda melarang alat musik Angklung karena mereka khwatir suara yang dihasilkan angklung akan memacu semangat persatuan kaum pribumi. Setelah beberapa kali tampil di Amerika, Australia, Beijing, dan dibeberapa Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).

"Kini kesenian Angklung akan tampil kembali pada Kongres Bambu Sedunia yang biasa disebut World Bamboo Day," ujar Udjo, Ahad (31/5), seperti dilansir republika online.

Udjo menjelaskan, kongres bambu tersebut akan diselenggarakan di Damyang, Korea. Saung Angklung Udjo mendapat undangan resmi dari Gubernur Damyang untuk menampikan kesenian Angklung pada 16 sampai 23 September 2015. Selain itu, Saung Angklung bersama para Pramuka juga akan berangkat ke Jepang membawa 500 Angklung.

Pada Kongres Bambu Sedunia ditahun sebelumnya, Udjo menceritakan, berbagai negara penggiat bambu memaparkan bambu yang dibuat berbagai macam bentuk yang bagus. Pembuatannya menggunakan teknologi yang modern. "Saat tiba giliran Indonesia, kami membagikan Angklung ke semua peserta kongres," kata Udjo.

Para peserta kongres yang awalnya serius seketika kaget. Kemudian Udjo menerangkan nilai filosofi Angklung dan cara memainkannya. Satu angklung hanya mempunyai satu nada. Untuk menciptakan musik yang dicita-citakan, semua penabuh Angklung membutuhkan kerjasama yang baik.

Menurut Udjo, ada simbol kerjasama dan toleransi dalam kesenian Angklung. Karenanya, Angklung digunakan dalam beberapa upacara adat di Jawa Barat dan Banten. [ROL/c2]

 

comments powered by Disqus