Dukung Lokananta Sampuli Vinyl, GMB Luncurkan G2000

Kamis, 18 Juli 2013

Sejarah musik Indonesia tidak bisa dilepaskan dari nama "Lokananta". Perusahaan rekaman tertua di Indonesia itu menghasilkan puluhan ribu album dari banyak musisi Indonesia, misalkan Gesang, Bing Slamet, Waldjinah, Ki Nartosabdho,  Bubi Chen, Titiek Puspa,  juga rekaman pidato kenegaraan Presiden Soekarno.

Namun karena tingkat persaingan di industri rekaman makin sengit, Lokananta yang  menjadi bagian dari Perum Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI)  itu sepertinya tidak sanggup menandingi kedigdayaan perusahaan label rekaman yang banyak bermunculan, baik yang lokal maupun "franchise" dalam jaringan label internasional. Permintaan pasar (demand) yang sangat minim menyebabkan Lokananta lambat-laun mengerem produksi, dan kemudian berhenti.

Stagnasi Lokananta meninggalkan banyak rekaman bersejarah. Konon kabarnya, koleksi rekaman-- yang kebanyakan dalam bentuk piringan hitam-- mencapai angka 50 ribu keping.  Banyak diantaranya koleksi yang rusak dan tergeletak tampa sampul (cover), jumlahnya mencapai  20.000 keping.

Adalah komunitas ”Galeri Malang Bernyanyi” (GMB) yang kemudian  tergerak untuk ikut berpartisipasi dalam upaya mempebaiki sampul-sampul vinyl yang hancur. Caranya dengan melansir program donasi yang bernama G-2000. Bentuknya adalah  pengumpulan dana secara sukarela sebesar Rp.2000,- “Nominal sebesar dua ribu rupiah itu adalah biaya yang sudah kami hitung untuk bisa mencetak satu lembar sampul album ukuran piringan hitam. Tentunya kami tidak menolak jika ada donatur yang mau menyumbang lebih dari dua ribu rupiah,” ujar Hengki Herwanto dalam konferensi pers di Malang beberapa waktu lalu.

Menurut Hengki, ide gerakan ini bermula saat GMB bersama pengurus ”Museum Musik Indonesia” (MMI) berkunjung ke perusahaan rekaman Lokananta. Melihat tumpukkan piringan hitam (Vinyl) yang ”telanjang” alias tanpa sampul, GMB dan MMI tergerak untuk sumbangsih tenaga mengumpulkan donasi dari siapa pun yang berniat menyumbang.

Ditambahkan, kondisi terlantarnya  ribuan piringan hitam tidak bisa dilepaskan dari tingginya biaya operasional studio Lokananta. Tidak hanya itu, konon kabarnya Lokananta juga sedang mengalami kesulitan untuk membayar pegawainya sendiri.

”Biaya perawatan memang selalu menjadi problem utama yang dihadapi oleh Lokananta. Sementara dukungan dari pemerintah belum optimal, bahkan nyaris tidak ada. Kunjungan pejabat-pejabat negara ke Lokananta sudah seringkali dilakukan, namun hasilnya belum terlihat,” ujar Hengki.

Berdasarkan pantauan cinmi.com, sejak dilansirnya gerakan ini  Juni lalu, respon dari para penggemar musik Indonesia cukup baik. Minggu lalu saja sudah terkumpul dana sebesar Rp 2.445.000,- dari sekitar 200 orang. Untuk meluaskan jangkauan promosi G-2000 ini, GMB menggunakan  fasilitas media sosial.

”Gerakan ini memang "nggremet" , tapi yang penting tidak jalan di tempat. Kami sangat berharap teman-teman facebook dari malang bernyanyi yg jumlahnya hampir 3000 orang berkenan menyisihkan @ Rp 2.000 saja untuk turut memelihara hasil karya musisi2 indonesia berupa PH yang tersimpan di Lokananta,” tulis GMB dalam laman Facebooknya.

Bagi kawan-kawan yang ingin menyumbang, panitia sudah menyiapkan rekening GMB di bank BCA dengan nomor 687 054 9944 an H Hengki Herwanto. Bagi kawan-kawan yang sudah mengirim diharapkan konfirmasi.  [sir/foto:gmb]

 

 

comments powered by Disqus