Konsistensi Dwiki Darmawan atas Musik Etnis dan Jazz

Dwiki DharmawanIndonesia telah banyak sekali melahirkan maestro musik jazz yang karyanya melegenda hingga ke mancanegara, salah satunya adalah Dwiki Darmawan. Bakat seni pria kelahiran  Bandung 45 tahun ini sudah terlihat sejak umur 7 tahun. Di usia yang sangat muda ini Dwiki “cilik” sudah mempelajari piano klasik. Dan pada usia 13 tahun ia mulai menekuni dunia musik bersama Elfa Secioria. Sulit rasanya melepaskan nama Dwiki Dharmawan dengan grup band  beraliran Jazz yang melegenda, ”Krakatau”. Pasalnya karir professional beliau dimulai saat ia bersama Pra Budi Dharma, Budhy Haryono, dan Donny Suhendra membentuk grup musik Krakatau pada tahun 1985.

Kala itu krakatau memberikan warna baru pada musik jazz dengan mengkombinasi musika gamelan Sunda dengan jazz. Warna musiknya yang baru dan unik namun mudah dinikmati mampu membawa Dwiki beserta ketiga rekannya untuk tampil di berbagai belahan dunia. Berbagai nama panggung musik dan festival musik bergengsi kelas internasional pernah diisi dengan penampilan dari Krakatau.

Dengan konsistensinya dalam memadukan musik etnis dan jazz, Krakatau telah mendapatkan pengakuan secara internasional. Dalam Journal Worlds of Music yang terbit di Amerika Serikat, dikatakan bahwa Krakatau merupakan bagian penting dari khazanah musik karena dapat memadukan musik tradisi Indonesia dan musik jazz dengan pas. Bersama Krakatau, Dwiki Dharmawan telah merilis 8 buah album.

Pada awal tahun karirnya itu pula—tahun 1985, Dwiki Dharmawan mendapatkan penghargaan ‘The Best Keyboard Player’ pada Yamaha Light Music Contest 1985 di Tokyo, Jepang. Selain itu Grand Prize Winner pada Asia Song Festival 2000 di Philipina juga pernah diraihnya.

Walaupun warna musik terkonsentrasi dalam jazz, ia berani menyatukannya dengan musik daerah Indonesia. Dwiki mulai menekuni berbagai musik tradisi Indonesia pada tahun 1990 dengan eksplorasi musik Sunda. Dari situ lahirlah album Mystical Mist dan Magical Match. Tidak puas dengan mengeksplorasi musik tanah kelahirannya, ia terus mempelajari dan bereksperimen dengan musik etnis dari daerah lain, seperti Aceh, Jawa, Bali, hingga Papua.

Pada tahun 2005, sebagai co-music director ia terlibat dalam pargelaran musik spektakular, Megalithicum Quantum, yang diselenggarakan di Jakarta dan Bali. Dwiki juga pernah bekerja sama dengan Garin Nugroho dalam mengerjakan tata musik untuk film Cinta Dalam Sepotong Roti. Dari situ ia juga menyabet penghargaan untuk Penata Musik Terbaik Festival Film Indonesia 1991.

Selain sibuk berkarya sembari mengeksplorasi musik-musik etnis, Dwiki Dharmawan juga menaruh perhatian pada dunia pendidikan. Ia merupakan direktur pada sebuah sekolah musik bernama Lembaga Pendidikan Musik Farabi. Dalam lembaga tersebut setiap murid mendapatkan pelajaran musik jazz, klasik, dan tentunya musik tradisional. Dengan ini diharapkan para murid dari sekolah musik Farabi mampu mengenali musik etnik dan modern.

Di samping itu, Dwiki juga aktif dalam kegiatan sosial. Konser amal Jazz for Aceh (2005) dan Jazz for Jogja (2006) merupakan kegiatan sosial yang digagas olehnya. Saat ini Dwiki Dharmawan tercatat sebagai anggota komite musik Dewan Kesenian Jakarta, dan juga Ketua Bidang Luar Negeri Persatuan Artis, Penata Musik dan Pencipta Lagu Indonesia (PAPPRI). [saras/bbs/IT/foto:istimewa]