Seberapa Pentingkah Panggung Konser ?

Selasa, 4 Juni 2013

Panggung selain memiliki fungsi sebagai tempat aksi pertunjukkan, juga bisa menjadi identitas  sebuah band. Dalam sejarahnya, tata panggung konser musik selalu mengalami perkembangan. Era 70-an panggung mungkin tidak menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Para musisi (termasuk menejer-nya) merasa cukup nyaman dengan setting panggung yang ala kadar-nya. Bagian yang menjadi perhatian biasanya hanya sound system yang disediakan panitia. Setting panggung yang mirip dengan pesta 17-an, tidak begitu dihiraukan oleh sebagian musisi.

Tata panggung dengan konstruksi dan desain seadanya, misalkan hanya menggunakan papan-papan yang disusun, dan ditopang oleh balok atau besi yang di-skrup, membuat nyaman penyanyi beraksi. Selain konstruksi  yang seadanya, tata pencahayaan (saat konser malam) juga tidak begitu diperhatikan. Ketersediaan beberapa lampu sorot warna-warni sudah cukup memuaskan para pengisi panggung yang tampil.

Situasi dahulu berbeda dengan sekarang. Tata panggung konser sudah lebih megah dan moderen. Selain menggunakan peralatan yang praktis, biasanya besi yang di plug-in sebagai konstruksi dan material pendukung lainnya, seperti lampu LED,  plastik "melamin" sebagai dasar atau lantai panggung. Sebagian penyedia peralatan panggung kini malah menyediakan sejumlah layanan untuk menjadi bahan request bagi siapapun yang ingin menyewanya. Mereka tidak hanya menyediakan konstruksi dan tampilannya saja, namun juga sudah merambah  ke jasa dan layanan tata cahaya. Intinya, kini bagi siapapun penyelenggara yang menginginkan panggungnya apik bin ciamik tinggal pilih saja paketnya, layaknya memilih makanan di restoran cepat saji.

Namun, dijaman sekarang pun banyak musisi   yang  mengangap tidak penting setting panggung yang disediakan. Biasanya mereka lebih terpana saat sang penyelenggara acara (event organizer) mampu mendatangkan ribuan orang untuk menyaksikan konsernya, plus pengamanan (security) untuk bisa menjaga situasi agar  konser berjalan  kondusif hingga turun panggung.

Bisa dibilang hanya segelintir band Indonesia yang memiliki tata panggung yang apik, itu pun tergantung dari siapa, event organizer yang mengundangnya. Misalkan kemarin, band NOAH yang digawangi Ariel, saat menggelar konser di MEIS Ancol, Jakarta Utara yang setting panggungnya disiapkan "Berlian Entertainment", kemudian Erwin Gutawa, saat konsernya yang bertajuk "A Master Piece of Erwin Gutawa" yang digagas "KG dan Dyandra". Juga group band Slank yang Mei lalu menggelar konser sekaligus promo sebuah produk rokok yang digarap dan di-support abis oleh produsen rokok tersebut dan sebuah Event Organizer berlabel "Rajawali Indonesia Communication". Dukungan maksimal dari para pengundang biasanya berupa setting panggung yang moderen, luas, dengan tata lampu LED yang gemerlap, hingga disediakannya tangga hidrolik.  

Berbeda dengan band Asing yang manggung di Indonesia. Kedatangan mereka disambut sangat antusias oleh pihak pengundang, Event Organizer. Mereka siap menyediakan  tata panggung yang spektakuler, yang berbeda dari biasa. Selain tata lampu yang gemerlap, sound system, kadang juga disiapkan layar lebar (big screen) dengan konsep pertunjukkan multimedia. Bahkan, kadang pihak manajemen band mereka, sebelum datang, meminta disediakan properti panggung "ini dan itu". Dan jika tidak tersedia, mereka siap membawanya dalam jumlah yang berton-ton.

Bagi promotor sekelas Adri Subono, setting panggung menjadi hal yang penting. Pihaknya, Java Musikindo, siap memenuhi permintaan band yang diundangnya. Misalkan, saat Java Musikindo mengundang penyanyi asal India, Shahrukh Khan. Panggung konser  di  Sentul International Convention Center (SICC) pun dibuatnya gemerlap. Hampir disetiap sudut panggung dipenuhi layar LED. Bahkan tak hanya LED, panggung pun akan dilengkapi panggung hydrolic di bagian tengah. Nuansa pepohonan dan awan-awan ala India pun divisualkan di atas panggung. "Panggung akan full LED, akan ada pepohonan-pepohonan yang juga akan muncul di LED, tangga LED,  pokoknya bukan lagi sekedar panggung dilengkapi LED tapi LED yang jadi panggung sepertinya," canda Adri Subono.

Selain Java Musikindo, penyelenggara lain yang rutin menggelar acara panggung musik berskala internasional, yakni Java Festival Production, juga memiliki standart sendiri dalam hal tata panggung pertunjukkan. Seperti yang dituturkan Dewi Gontha, panggung harus menjadi perhatian utama selain artisnya tadi. Artinya bagaimana pihaknya bisa menyediakan "ruang" dalam panggung agar artis atau musisi yang tampil merasa nyaman dan aman. Tidak hanya itu, dalam sejumlah kegiatan musik JFP kerap kali menambahkan aspek visual diatas panggung. Misalnya dalan ajang Java Jazz Festival beberapa waktu lalu. Saat band atau musisi tampil, penonton juga bisa menyaksikan biografi, foto-foto, hingga nama lagu yang akan dan sedang dibawakan. Tidak hanya itu, dalam layat (screen) ratusan inchi itu juga memvisualkan tampilan mulrimedia  yang membuat penampilan musisi menjadi lebih megah. Kadang penyelenggara memadukan tayangan si artis dengan iklan yang mensponsori penyelenggaraan event tersebut.

Band Indonesia, memang tidak rewel dalam urusan panggung. Dengan konsep tata panggung sederhana, dan dengan dengan sound sistem yang prima sebetulnya sudah membuat mereka puas, terlebih lagi jika penonton yang hadir juga banyak. Bisa jadi ini karena, band tersebut sudah dikontrak oleh pihak sponsor untuk tampil. Yang penting dibayar dengan angka yang disepakati, dan siap tampil dengan lagu yang sudah di-list.

Memang tidak ada band atau musisi  yang secara khusus memesang desain dan tata panggung secara khusus. Namun  bagi band NOAH, UNGU, dan DEWA 19 tata panggung menjadi sangat penting. "Bagi kami selain konstruksi yang  kuat, lebar panggung yang luas,  sound sistem dan tata cahaya yang baik sudah cukup membuat band kami tampil baik," ujar Ariel pentolan NOAH.  Karena, bagaimanapun performa mereka juga ditentukan faktor eksternal. Jadi memang harus  saling mendukung, misalkan band sudah diap 100 persen akan tampil dan percaya diri, namun bisa menjadi drop spiritnya begitu melihat situasi panggung yang kurang kondusif.

Untuk menjaga kenyamanan dan keamanan saat pertunjukkan, memang seharusnya sang penyedia tata panggung memiliki standar sendiri saat merancang bangun panggung. Selain aspek kekuatan konstruksi-- karena untuk menahan beban ratusan kilo peralatan band berikut speaker yang gede-gede, siap menghadapi terjangan angin saat konser digelar di luar ruangan (outdoor)-- juga menjadi nyaman bagi penyayi yang beraksi diatasnya. Space bebas yang digunakan untuk sang vokalis menyanyi cukup memadai, sehingga aksi panggung menjadi lebih hidup.Penyanyi dengan leluasa berjalan, berlari dan melompat-lompat.

Mungkin masih segar dalam ingatan kita, akhir tahun lalu saat penyanyi Raisa, Tompi dan Glenn Fredly batal tampil di panggung Hotel Trans Bandung gara-gara band robooh sebelum konser digelar. Juga masih bisa dingat ketika penyanyi Jazz wanita ternama, Syaharani, harus masuk UGD gara-gara  tertimpa lampu panggung yang beratnya puluhan kilo itu.

So, jika sudah begini karena banyaknya pengalaman  buruk yang menimpa gara-gara panggung, setidaknya para promotor, menejer dan pihak EO harus lebih memperhatikan kondisi panggung saat  panggung akan didirikan.Di Luar Negeri   bahkan ahli konstruksi ikuti dilibatkan untuk penyelenggaraan musik, mereka ditugaskan untuk memeriksa kekuatan panngung, layak atau tidak untuk bisa digunakan untuk konser, ketika harus  dibebani dengan ratusan kilo peralatan termasuk musisi yang saat menyanyi tidak diam ditempat, melainkan melakukan atraksi panggung.

Setidaknya, pihak menejer band juga memperhatikan kondisi panggung, sehingga artis yang didampinginya merasa nyaman dan aman saat menunaikan tugas menyanyi-nya.[lyz/foto:istimewa]

 

comments powered by Disqus
Tidak ada event minggu ini