Mengurai Kenangan Sosok Ayah, Sahabat, Guru Serta Legenda Jazz Indonesia

Selasa, 23 Oktober 2012
Mengurai Kenangan Sosok Ayah, Sahabat, Guru Serta Legenda Jazz Indonesia

"Ketika pertama kali (mengadakan acara jazz) di Taman Ismail Marzuki yang nonton cuma tiga orang," kenang Benny Likumahuwa sambil tertawa. Dikisahkan pula bagaimana kebingungan pembagian honor untuk 25 orang dari hasil penjualan tiket yang hanya menghasilkan tiga penonton. Namun hal tersebut tidak menciutkan nyali untuk membuat pementasan jazz. "Yang penting jazz hidup," tambah Benny.

Itu adalah sekelumit kenangan Benny Likuhuwa mengenai sosok sahabatnya dalam bermusik, Jack Lemmers. Asing dengan nama tersebut? Kebijakan pemerintah pada era 1960-an untuk mengindonesianisasi nama-nama asing, Lemmers kemudian diubah menjadi Lesmana. Lengkapnya menjadi Jack Lesmana.

Menilik nama belakangnya, memang benar Jack Lesmana adalah ayah dari Indra Lesmana dan Mira Lesmana yang turut mewarisi darah seninya. Selain keempat darah dagingnya, Jack adalah ayah bagi setiap musisi yang menaruh hormat padanya. Baik sebagai guru atau pun rekan dalam bermusik.

Kenangan-kenangan akan sosok Jack Lesmana silih berganti digulirkan di acara Tribute To Jack yang digelar di Red White Lounge Kemang pada Kamis (18/10/2012) malam. Berbagai cerita mengalir dari rekan sejawat serta musisi yang pernah merasakan bekerjasama dengan Jack di tanggal yang bertepatan dengan ulang tahunnya.

Ada Oele Pattiselano yang permainan gitar jazz swingnya dikagumi oleh Jack. Serta murid bandelnya yang suka datang dengan motor, Jefrey Tahalele. Begitu pula Margie Segers yang selalu merasa "diteror" oleh Jack yang kerap "menculiknya" untuk latihan. Namun berbuah manis dengan produksi album pertamanya, Semua Bisa Bilang, tahun 1975. Rien Djamain yang pemalu pun merasakan sentuhan tangan dingin Jack di album Api Asmara.

Akhir 70-an, Jack membuat acara jazz bulanan di TVRI bertajuk Nada dan Improvisasi yang menampil kan banyak pemusik jazz baik dari kalangan yang telah mapan maupun pemula. "I'm the luckiest person in the world," ujar Harvey Malaiholo ketika mengenang mendapat kesempatan tampil di Nada dan Improvisasi. Karena baginya adalah mimpi bisa tampil seperti terpesona dengan penampilan Broery Marantika maupun Noor Bersaudara.

Bagi Ireng Maulana, Jack adalah sosok yang konsisten. "Saya masih ingat, yang lain sudah berhenti, dia masih jalan terus (dengan acaranya)," ujar Ireng. Ia adalah simbol ikhtiar bagaimana suatu ekspresi musikal akhirnya diterima dan tidak selamanya datang sebagai tamu.

Tribute To Jack menghadirkan pula mantan murid Jack Lesmana di sekolah musik yang bernama Forum "Musik Indra & Jack Lesmana". Riza Arshad tercatat sebagai murid dalam urut absen 2. Juga hadir Dewa Budjana. Bersama-sama dengan Indra, mereka membawakan gubahan karya Budjana, "Swinging Jack Lemmers".

Bukan berarti menutup kesempatan pada generasi yang tidak merasakan tangan dingin Jack untuk turut dalam acara ini. Joey berusia 8 tahun namun kehandalan bermain pianonya luar biasa. Serta drummer berusia 15 tahun, Rafi, dan, menurut Indra, si badung Barry Likumahuwa turut menyemarakkan acara. Ini sejalan dengan kemauan Jack agar ada regenerasi dalam jazz Indonesia.

Indra pun mempersembahkan karyanya. "Crystal Sky" yang digubahnya tahun 1988 di hari yang sama dengan berpulangnya Jack. Kemudian bernostalgia membawakan karya duetnya bersama sang Ayah, "Children of Fantasy". "Saya terakhir memainkan (lagu ini) bareng Ayah tahun 1981," ujar Indra.

[Yose/IT/foto:Yose] 

comments powered by Disqus