Mas Gatot Triyono dan "Simpul" Musik Indonesia

Senin, 8 Oktober 2018

Pertemuan saya dengan mas Gatot Triyono berawal dari facebook, sekitar tahun 2005-an. Saat itu mas Gatot memang sering meng-upload aktivitasnya di Komunitas Penggemar Musik Indonesia (KPMI), terutama tentang acara  kopi darat KPMI di Langsat Corner, Kebayoran Baru Jakarta Selatan. 

Terus terang, saya sangat tertarik untuk bisa bergabung di komunitas itu. Untuk itu sebelumnya, saya berkeinginan sowan (berkunjung) ke mas Gatot, sekaligus menanyakan tentang jadwal kumpul, berikut  acara lainnya yang digagas KPMI. Karena secara kebetulan saya juga sedang menyiapkan tulisan tentang profil KPMI untuk  dimuat di media musik online yang saya kelola.  Melalui obrolan via Inbox di FB dengan Mas Gatot, akhirnya  percakapan berlanjut  ke pertemuan langsung (kopi darat) dengan beliau di kantornya, di Kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan.

Pertemuan di lobby kantornya sangat berkesan. Beliau dengan ramah  menyapa, bersalaman dan mengajak saya ke ruangannya. Saya agak kaget juga, karena baru pertama kali bertemu beliau langsung mengajak ke ruangannya yang menurut saya cukup privat. "Agar lebih tenang dan asyik ngobrolnya", kata mas Gatot kepada saya.

Buat saya, mas Gatot selain saya anggap sebagai kakak/kangmas,  beliau juga menjadi salah satu referensi  informasi musik Indonesia. Pengetahuannya tentang musik Indonesia era 70-an sampai 90-an lumayan banyak. Cerita- dan kisah dibelakang layar (behind the scene) beliau mengetahuinya, mungkin karena Mas Gatot rajin silaturahmi menimba ilmu dengan para pelaku utamanya (musisi) secara langsung. 

Mas Gatot juga bercerita tentang koleksi album lawasnya yang dimiliki, mulai dari Godbless, Koes Plus hingga Dara Puspita.  Beliau juga tidak segan-segan dan rajin "mentranskrip" hasil bincangnya dengan para narasumber dalam bentuk tulisan.

Melalui mas Gatot lah, KPMI memiliki wadah untuk promosi dan berbagi tentang sejarah musik Indonesia melalui tempat dimana beliau bekerja, Koran Republika. Sejumlah anggota KPMI yang suka menulis, seperti Denny Sakrie (Almarhum), Akmal Nasery Basral, ekky Imanjaya, Denny MR, Theodore KS,  Asriat Ginting, dan lain sebagainya, mendapat tempat untuk mengapresiasikan ilmunya sembari berbagi tentang kelompok musik yang mungkin anak jaman sekarang belum mengetahuinya. 

Saya kadang iri dengan mas Gatot karena meski dia sibuk dengan pekerjaannya, masih menyempatkan diri hadir dan aktif di KPMI. Pertemuan demi pertemuan dengan banyak musisi, tercatat di Facebook-nya mas Gatot. Musisi seperti grup Godbless, Fariz RM, Gank Pegangsaan, dan lain sebagainya   kerap tampil dilaman FB pribadinya. 

Kepedulian dan komitmennya untuk perkembangan musik Indonesia selalu ada di hati Mas Gatot. Karena, melalui mas Gatot pulalah, terlahir buku musisiku 1-2, hasil kerjasama antara KPMI dan Republika. Buku berisi kumpulan tulisan para penulis yang juga penggemar musik Indonesia menjadi satu-satunya referensi musik Indonesia  yang cukup detil menyoroti perjalanan sejumlah musisi yang melegenda. Selain sejara para musisinya, dibuku tersebut juga dilengkapi dengan informasi albumnya secara terinci. Saya beberapa kali memesan buku tersebut untuk kawan sejawat yang ingin mengetahui band-band jadul yang melegenda itu. Oh, ya Mas Gatot juga pernah bercerita jika dirinya bersama teman-teman sedang menyiapkan buku biografi band perempuan legenda Indonesia "Dara Puspita", sayang hingga saat ini belum terealisasi. 

Semangat mas Gatot untuk mengapresiasi musik Indonesia juga tercermin dari keinginan beliau (bersama  teman-temannya) untuk membuat museum musik Indonesia yang berlokasi di Taman Mini Indonesia Indah. Tentang rencana dan Ide soal ini juga disampaikan kepada saya dan mengajak saya  untuk bantu mendukung. "Saya siap Mas," kata saya via chat.

Tidak bisa dipungkiri, kita kehilangan sosok mas Gatot yang bersemangat memberikan perhatian kepada musik Indonesia. Dari sekian banyak tokoh, musisi dan pejabat yang menginginkan musik Indonesia maju, Mas Gatot Triyono ada dibarisan itu. Beliau seperti simpul yang merekatkan.

Selamat jalan mas, maaf jika ada salah dan khilaf saya selama berinteraksi. [Lysthano, penikmat musik Indonesia]

 

Sumber foto : Gatot Triyono Facebook

comments powered by Disqus