Band Bubar Bukan Berarti Tidak Bisa Reunian

Rabu, 7 Maret 2018

Para penikmat musik di tanah air kini boleh bersenang hati, pasalnya band pujaan yang dulu sempat bubar   kini banyak yang menggelar reuni. Tidak hanya itu, band yang tadinya terkenal, sukses dan kemudian vakum karena ditinggal sang frontman juga kembali aktif.

Hal ini sebetulnya sebuah fenomena yang umum. Sangat mungkin, saat dahulu   memutuskan untuk bubar karena lebih ke-alasan yang  cenderung emosional. Misalnya,  karena tidak satu visi-misi, pembagian honor yang tidak merata, atau karena kasus narkoba yang menjerat salah satu personelnya. Hal  inilah yang biasanya menyebabkan sebuah band yang sudah terkenal kemudian kandas ditengah jalan. Meski ada beberapa band yang coba bertahan dengan menggantikan personelnya yang "bermasalah", namun tidak sedikit yang gagal setelah upaya ini ditempuh. 

Untuk kasus seperti yang penulis uraikan diatas, misalkan   band Dewa 19. Setelah Ari Lasso (vokalis) yang dikeluarkan, dan digantikan oleh Once Mekel, band ini sempat nge-hitz kembali. Beberapa albumnya sukses dan meraih sejumlah penghargaan. Pentolan dan pendiri Dewa 19, Ahmad Dhani, berhasil mengelola manajemen band-nya sehingga masih bisa eksis. 

Kemudian, untuk contoh band yang "gagal" tampil setelah ditinggalkan frontman-nya adalah Keris Patih. Band asal Jakarta ini berhasil mendulang sukses lewat album “Kejujuran Hati” dan “Kenyataan Perasaaan”   namun setelah sang vokalis, Sammy Simorangkir terkena kasus narkoba dan "dipecat" dari manajemennya, Keris Patih gagal bangkit. Pergantian dari Sammy ke Fandy Santoso, vokalis baru ini tidak berhasil mendongkrak kembali popularitas Band ini.  Apalagi, ditahun 2016 pentolan Keris Patih, Badai, juga hengkang dengan alasan bersolo karir. 

Masih banyak kasus lainnya dalam industri musik tanah air, dimana band "jatuh-bangun" untuk sukses di belanjara dunia musik Indonesia yang kian padat.  

Tidak bisa dipungkiri, seiring dengan berjalannya waktu, beberapa personel band mengalami perkembangan kepribadian atau sikap hidup yang lebih dewasa. Mereka kian paham, bahwa untuk sukses butuh kebersamaan, keterbukaan dan harus mampu menahan sifat egoisme.

Kenyataan yang harus dihadapi oleh musisi (dan ini harus selalu disadari) adalah tingkat persaingan yang tinggi diindustri. Di lain sisi, Kebutuhan  hidup yang terus meningkat, apalagi jika harus menyesuaikan dengan gaya hidup (lifestyle) pada saat sang musisi dahulunya sukses. 

Tidak hanya itu, sejalan dengan naiknya harga kebutuhan membuat mereka berfikir ulang untuk pasif dan tidak menghasilkan karya apa-apa. Belum lagi tingkat persaingan di industri musik  yang kian ketat, memaksa mereka memutar otak untuk tetap eksis di dunia musik, dimana mereka memiliki skill dan passion dibidang itu.

Maka, sangatlah wajar jika saat ini  ramai kembali fenomena "band reuni" . Kita bisa saksikan, misalkan band Padi kembali "Reborn", alias terlahir kembali setelah Sang Gitaris Piyu kembali bergabung. Sebelumnya Piyu sempat bersolo karir, disamping memiliki bisnis mengorbitkan penyanyi muda pendatang baru. Begitu juga dengan Yoyo, Fadhli dan Rindra yang sepakat menggagas band "Musikimia" dan berhasil membuat 2 karya bertajuk Indonesia Adalah.. dan Intersisi

Pilihan untuk tetap eksis atau bubar sudah pasti menjadi keputusan masing-masing musisi. Namun yang perlu diperhatian adalah tidak mudah untuk "mengembalikan" kejayaan seperi yang pernah terjadi. 

Maka, yang aman adalah kembali aktif bernyanyi bersama band/kawan seperjuangan. Menyanyikan lagu lama, atau kembali menyanyikan dengan aransemen yang baru. Lebih bagus lagi kembali mencipta lagu dan menjadikannya hitz, diterima pasar atau penggemar musik hingga kemudian muncul lagu-lagu bermutu lainnya dan menjadi karya abadi yang selalu dikenang. [lysthano, penikmat musik/foto:istimewa]

 

comments powered by Disqus