Konser, Musik dan Sampah

Jumat, 13 November 2015

Sudah menjadi anggapan umum, jika ada gelaran konser musik, seusai acara digelar, sampah pasti menumpuk. Kalo ini, sudah pasti iya... Namun yang menjadi kepedulian penulis adalah bagaimana sebuah penyelenggaraan konser musik, panitia juga bisa menangani sampah yang ditimbulkan.

Sobat pasti pernah mengalami, ketika masuk ke arena konser, panitia melarang penonton membawa makanan dan minuman dari luar. Lewat "razia" dipintu masuk saja panitia sudah mengumpulkan gundukan sampah, terutama botol minuman. Bahkan, kadang konser yang digelar di arena yang cukup luas, seperti di Gelora Bung Karno, sampah yang dikumpulkan bisa "segunung".  Belum lagi ketika penonton masuk dan "dipaksa" membeli makanan-minuman dari booth yang disediakan panitia, diprediksi sampah bisa lebih banyak. Seperti diketahui, ketika sampai didalam arena konser, jenis makanan yang disediakan cukup bervariasi, mulai dari nasi, ayam goreng, pizza, hotdog, hingga mie instan. Kesemuanya menghasilkan model sampah yang beragam. Belum lagi produk-produk lainnya yang menyisakan sampah.

Tanpa bermaksud mengajari pihak penyelenggara acara, tentang bagaimana memenej sampah kala dan usai konser, namun tidak ada salahnya jika penulis ingin berbagi dari perspektif penonton konser yang peduli akan kebersihan :) aka muak dengan konser yang menghasilkan sampah bergunung-gunung. Meski ada petugas kebersihan usai konser, tentu tidak ada salahnya jika panitia juga mengantisipasi  bakal berantakannya sampah dan menimbulkan bau tak sedap.

Yang pasti, dalam setiap event konser musik, harus ada kru panitia yang mengurusi atau bisa dibilang mengopeni  hal ini. Perhatian akan sampah harus dimulai sejak penonton masuk ke arena konser. Tempat-tempat sampah harus cukup memadai dan diletakkan ditempat yang mudah dijangkau. Panitia juga harus siap menyediakan bak sampah cadangan jika suatu ketika bak sampah yang disediakan penuh.

Informasi dan publikasi tentang pentingnya menjaga kebersihan juga harus menjadi concern announcer acara. Lewat speaker yang disediakan, panitia bisa mengumumkan tentang posisi2 tempat sampah yang disediakan, disamping seruan arti penting kebersihan. Tidak cukup itu, lewat penyanyi dan band yang mengisi acara tidak ada salahnya dititipkan pesan seruan pentingnya menjaga kebersihan ini.

Tidak kalah pentingnya adalah ikut menggandeng tenant-tenant pengisi booth makanan untuk ikut  menyediakan tempat sampah untuk para konsumennya (yang makan di tempat).

Kita mungkin sepaham, masalah sampah tidak bisa dianggap remeh. Selain sampah hasil buangan rumah tangga, sampah-sampah yang dihasilkan oleh momen2 singkat seperti konser juga cukup dan sangat perlu duperhatikan. Bila perlu, pantia menggandeng dinas kebersihan yang menangangi masalah ini. Dan terlebih penting lagi adalah pengelolaan sampah setelah diangkut.

Jika musik sebagai sebuah Industri dan konser berada dalam pusarannya, namun bagi musisi dan penyanyinya setiap  karya yang diciptakan memiliki nilai. Proses penciptaan karya seni tentu saja lekat dengan hal-hal yang natural dan suci, termasuk menjaga kebersihan, dan bila saja ini mampu disinkronkan, penulis yakin model penanganan sampah oleh para penyelenggara event konser bisa mndapatkan point lain, termasuk nilai dari calon penonton yang ingin menonton karena event dibuat oleh EO  yang peduli akan kebersihan. Salammusik..[matcepe/foto:lip6]

 

comments powered by Disqus
Tidak ada event minggu ini