Sound System, Tentukan Sukses-Gagalnya Konser

Kamis, 12 November 2015

Alat musik merupakan instrumen penting dalam sebuah pertunjukan musik (konser).Dan Setiap musisi memiliki cara sendiri untuk memilih alat musik yang baik untuk dimainkan. Bahkan, tidak sedikit diantara mereka yang memilih merek (brand) tertentu untuk tampil. Namun, seberapa bagus dan mahalnya alat musik tidak bisa menjamin permainan menjadi baik di atas panggung. Ada faktor penentu lain, ketika keluaran suara alat musik dikombinasikan dengan sound sistem diatas panggung.

Alih-alih berharap bisa tampil baik diatas panggung, yang terjadi malah sebaliknya. Permainan sudah apik dan maksimal, keluaran suara menjadi amburadul dan tidak nyaman didengar. Penulis sering menyaksikan hal ini terjadi disejumlah konser besar di Jakarta, termasuk konser super band sekelas Bon Jovi.

Dalam penyelenggaraan konser, biasanya panitia menyediakan alat musik komplit, mulai dari drum, gitar, bass, piano hingga alat musik tambahan lainnya. Dan biasanya, musisi yang tampil membawa alat musik sendiri,  hal ini untuk beberapa band ,  menjadi standart operational prosedur (SOP) dari manajemen dimana musisi ini dinaungi. Tidak hanya itu, sang musisi juga membawa sound-engineer sendiri untuk menghandle set-sound sebelum acara konser dimulai.

Bagi musisi tertentu, kondisi set-sound panggung buruk yang disiapkan panitia bisa disiasati dengan melakukan GR (gradi resik) sebelum konser dimulai. Namun, memang, yang menjadi masalah ketika waktu yang  tersedia untuk men-setting suara di panggung sangat singkat, sehingga persiapan menjadi tidak maksimal. Biasanya ini terjadi pada pagelaran musik, dimana sejumlah band "ditandem" secara bersamaan dalam satu panggung. Durasi yang diberikan panitia, biasanya diatas 30 menit, bahkan ada yang satu jam, selalu dirasa kurang.

Konser terakhir yang penulis saksikan adalah pagelaran musik 90-an, the 90's Festival, yang digelar Sabtu lalu, 7 November 2015, di Istora Senayan Jakarta. Terdapat 3 panggung utama yang disediakan panitia. Panggung pertama ada di bagian dalam gedung (Indoor), panggung ke-2 disisi kiri pintu keluar arah Barat, dan satu lagi, panggung ke-3 yang berada di sebelah  kanan pintu keluar arah Timur. Ketiga panggung memiliki kualitas suara (sound) yang berbeda.

Panggung Utama, yang berisikan band-band 90-an ternama  yang legend dan memiliki massa penggemar yang cukup banyak, Seperti Protonema, Rida Sita Dewi (RSD), Java Jive, Frente hingga Kla Project memiliki set sound yang lumayan apik. Jeda waktu (kurang lebih 1 jam) yang disediakan panitia dimanfaatkan dengan bagus oleh para kru. Sehingga peralihan dari konser ke konser dilalui dengan baik, dan dengan band para penampil yang juga menyuguhkan permainan yang sangat baik.

Panggung ke-2 dalam ajang itu juga lumayan baik. Selain ukuran panggung yang cukup luas, dengan aksesoris panggung  termasuk tata lampu dan big-screen memadai, para pemain juga bisa memaksimalkan set panggung  sebelum acara dimulai bersama kru dari panitia dengan baik. Meski diawal-awal, sound belum  stabil (mungkin karena faktor cuaca) beberapa keluaran suara tidak maksimal.  Sejumlah instrumen mengeluarakan suara distorsi yang mengganggu. Bahkan ketika konser berjalan, seperti yang dialami group "Bunglon", mic yang dipegang vokalis malah sering mati.Untungnya, para personel band ini sigap dan bisa tetap tampil maksimal.

Panggung ke-3, yang menurut kabar mengalami "kerusakan" akibat diterjang angin sore itu, segera diperbaiki panitia, sehingga band penampil bisa mulai beraksi. Sempat mundur dari jadwal yang ditetapkan memang, sedianya jam 4 mulai, mereka baru bermain usai azan Magrib. Setting suara dipanggung tersebut cukup lama, untungnya band penampil yang membawakan genre Rap, seperti Sweet Martabak, NEO, Iwa K, dan 90's Hip Hop tidak mendapatkan gangguan yang berarti, karena mereka membawa set alat sendiri [mixer,turntable, dll]  untuk tampil.

Kejadian kurang mengenakkan berlangsung pada saat band Sket dan Bayou tampil. Persiapan waktu yang ada cukup singkat sehingga kru yang mengurus sound-system tidak bisa maksimal. Suara distorsi kadang muncul dan sangat mengganggu. Untungnya, kru band cukup sigap dan tetap tampil menarik meski kualitas suara yang keluar dari deretan speaker "memekakkan" telinga.


Sound-System kerap kali menjadi masalah dalam setiap pertunjukkan. Untuk itu,panitia harus menyiapkan set alat dengan baik baik. Tidak hanya itu, para kru yang mengurusi sound system juga harus mumpuni dan berpengalaman. Dan mereka juga harus sigap terhadap gangguan yang terjadi diatas panggung saat sang musisi atau band beraksi. Untuk itu perlu ada kerjasama antara kru panggung dengan kru yang dibawa khusus oleh sang musisi.

Khusus untuk gelaran konser diluar ruangan (outdoor) perlu upaya maksimal dari para kru, wabilkhusus yang menangani masalah sound. Posisi ruang kontrol  yang berada di depan panggung kadang masih belum maksimal, ketika menghadapi distorsi suara diatas panggung. Sound Engineer panggung dan musisi yang disiapkan diatas panggung (disamping) kadang juga kurang jeli atas buruknya suara yang penonton dengarkan. Maka, ada baiknya mereka mengirim kru yang juga mengontrol dari posisi penonton. Karena bagaimanapun, posisi penonton menjadi sentral karena mereka menerima suara dengan posisi yang cukup dekat dari posisi musisi bermain. Hal ini belum banyak dilakukan oleh penyelenggara pertunjukkan di Indonesia.

Saat penulis menyaksikan konser band asing yang sedang mampir ke Indonesia, penulis menyaksikan sendiri ada lebih dari satu orang "petugas" yang diutus untuk turun ke posisi penonton dan berbaur dengan penonton lainnya. Mereka dengan sigap melapor gangguan suara yang kurang nyaman melalui Handy Talky ke petugas di panggung kontrol suara, baik panggung kontrol suara yang berada   jauh di depan panggung, juga yang berada di sisi panggung. [matcepe]

 

comments powered by Disqus
Tidak ada event minggu ini