Alat Musik Tradisional

Mengenalkan Sasando Sejak Usia Dini

Senin, 8 Juni 2015

Pada 3 Juni lalu, Rino Excel Pah (12) yang mengenakan topi Ti'I Langga dan kain Rote, duduk terdiam di belakang alat musik berukuran 50 cm kesayangannya, sasando. Sesekali, jari-jari lentiknya memetik senar-senar pada alat musik yang terbuat dari daun lontar itu.

Siswa kelas enam Sekolah Dasar itu masih menunggu dimulainya acara bertema perlindungan anak yang dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlidungan Anak (PP dan PA), Yohana Yambise.

"Pertama-tama susah. Jarinya kaku. Tapi setelah tiga hari tidak lagi," ujar Rino   di Aula Kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) di Kupang, seperti dilansir antaranews.com.

Ibunda Rino, Dorce Pah (40), mengatakan, putra bungsunya itu mulai belajar sasando sejak kelas empat SD atau tepatnya dua tahun lalu.

Sama seperti kakaknya, menurut Dorce, tak ada yang memaksa Rino belajar bermain sasando. Rino yang meminta sendiri untuk diajarkan alat musik khas tempat lahirnya itu. 

"Dia mau sendiri. Kebetulan ayahnya pengrajin sasando," kata Dorce yang merupakan warga Desa Oebelo, Kupang itu.  

Rino merupakan satu dari anak-anak binaan Lembaga Pengembangan Masyarakat Madani (LPMM) Kupang bersama LSM ChildFund. Bersama Rino masih ada 39 orang anak yang memiliki minat sama untuk belajar memainkan sasando.

Koordinator proyek LPMM Kupang, Silvester Seno, mengatakan, di Kupang saat ini tak banyak anak dan remaja yang berminat memainkan sasando. Dua alasan utamanya karena tingkat kesulitan memainkan sasando yang cukup tinggi dan sasando yang kalah populer dibandingkan alat musik modern lainnya seperti drum dan gitar.

"Ini soal minat. Tingkat kesulitan (memainkan sasando) cukup tinggi," kata dia.

Selain itu, sasando pun tak diperkenalkan pihak sekolah, baik sebagai bagian dari ekstrakulikuler ataupun muatan lokal.

Oleh karena itu, melalui lembaga swadaya masyarakat yang ia naungi, Silvester mencoba untuk mempromosikan kesenian lokal misalnya sasando pada anak-anak di Kupang. 

"Sejak tiga tahun terakhir, kita promosikan melalui sekolah ramah anak, salah satunya budaya lokal. Anak-anak jangan sampai menjadi penonton. Kita tumbuhkan kecintaan pada budaya lokal melalui sekolah," kata dia.

Silvester mengatakan, selain sasando, tari Likurai yang berasal dari Kabupaten Belu, NTT, lalu tari Bidu, juga diperkenalkan melalui sekolah. Anak-anak dibebaskan memilih sesuai minatnya.

Menurut dia, pemerintah daerah bukannya samasekali tak melakukan apa-apa untuk menumbuhkembangkan minat anak-anak dan pemuda pada budaya lokal semisal kesenian.  Pemerintah daerah bahkan memasukkan kesenian sasando dalam program kerjanya. Hanya saja, terkendala soal konsistensi.   

"Pemerintah sebenarnya punya program memasukkan kesenian dalam kegiatan rutinnya, tetapi tidak dilakukan secara konsisten. Di sekolah-sekolah hampir tida ada ekstrakulikuler untuk pengembangan minat dan bakat, kesenian sasando misalnya,” pungkas dia. [antara/c2/foto:istimewa]

comments powered by Disqus
Tidak ada event minggu ini