Biografi, Bukan Sekedar Buku "Sejarah"

Jumat, 2 Mei 2014

Beberapa waktu lalu, ada beberap group musik lawas yang sudah dan tengah menyiapkan buku. Misalkan kemarin, Koes Plus sudah meluncurkan buku berjudul "Kisah dari Hati Koes Plus", yang sekaligus menandai 44 tahun band itu berkiprah. Sebelumnya, Donny fattah ( personel God Bless) juga meluncurkan buku berjudul  "40 Tahun dalam Godbless, Bersama Godbless dan untuk Godbless". Kabarnya  band Godbless sebentar lagi akan merilis buku. Konon, buku 40 Tahun God Bless ini rencananya akan diluncurkan tahun lalu (2013), namun karena ada beberapa perbaikan, tahun ini akan diluncurkan.

Menerbitkan buku biografi tentunya bukan perkara mudah. Diperlukan keseriusan dari sang penulis ( baik team atau individu) yang akan menuliskan dengan data yang cukup. Ya, menulis biografi bisa diumpamakan  sebuah pekerjaan mengumpulkan kembali serpihan-serpihan  perjalanan dari band atau profil yang akan ditulis. Sang penulis harus cermat memilih dan memilah data-data yang akan dituliskan. Bukan hanya data berupa tulisan, namun juga harus dilengkapi dengan wawancara mendalam dari subyek yang akan dituliskan. Tidak ketinggalan, pemuatan data visual berupa photo juga menjadi faktor penting yang membuat buku semakin menarik untuk dibaca. 

Kesuksesan penulisan sebuah biografi tentu saja bukan karena banyaknya buku yang nanti  akan dibeli oleh pembaca, namun juga dari kelengkapan content yang disajikan. Sang penulis harus sanggup menyajikan tulisan yang lengkap dalam mengungkap sisi lain dari subyek yang akan ditulis karena dari situlah buku biografi menjadi sangat penting untuk dibaca.

Saya jadi teringat seorang kawan penulis yang bercerita betapa dari sisi subyek yang akan ditulis masih belum percaya diri menyajikan kisah yang sebenarnya. Sebagai contoh kisah konflik yang pernah dialami oleh sebuah band legend. Sebetulnya banyak diantara fans yang mengetahui tentang perselisihan  tersebut, namun ada rasa khawatir tulisan yang mengisahkan itu akan membuat konflik baru. Misalkan,  keluarnya atau mengundurkan dirinya seorang personel band X yang penuh kontroversi. Apalah karena mengundurkan diri atau di pecat. Lalu apa penyebabnya???. Kemudian adalah konflik-konflik personal yang terjadi diantara personel band? Karena tidak sedikit band yang tetap utuh namun sebetulnya rapuh karena ada bibit ketidakcocokan diantara personel .

Tentu saja tidak semua kisah bisa dituliskan. Bagi sebagian band, konflik memang sudah biasa terjadi dan tidak perlu lagi diungkit-ungkit. Yang terpenting adalah bagaimana sebuah karya fenomenal bisa dihasilkan.

Buku biografi tentu saja bukan sebuah keharusan yang wajib ditulis oleh sebuah band, namun sebuah buku bisa menjadi saksi bisu perjalanan sebuah band menggapai kesuksesan seorang musisi dalam berkarya.

Penulis dalam hal ini berpandangan dari benefit yang bisa didapatkan. Oleh para pembaca yang notabene juga penggemarnya. Misalkan beberapa buku tentang musisi Fariz RM,  Faiz  misalnya berbagi tentang bagaimana sebuah ide menulis lagu dan bagaimana proses aransemennya dalam buku: Rekayasa Fiksi : Bagaimana Cara Fariz Menulis Lagu . Juga saat dia terkena kasus yang akhirnya membawa musisi ini masuk hotel Prodeo, Fariz kemudian menuliskannya tentang pandangan bermusiknya dan perkembangan dunia musik secara keseluruhan.

Selain fariz RM, gitaris  band Gigi, Dewa Budjana juga berbagi keterampilan nya dalam memainkan gitar dan mencipta lagu lewat buku.  

Mengakhiri tulisan ini, saya kok lebih menyukai sebuah karya buku yang bukan hanya berisi tentang sejarah, baik yang manis maupun  yang pahit, namun juga bagaimana seorang musisi bisa berbagi dari skill yang dimilikinya. Secara tidak langsung musisi bisa berbagi tentang kesuksesannya dan bagaimana sebuah proses karya / lagu dibuat. [lyz/cinmi/foto:istimewa]
 

comments powered by Disqus
Tidak ada event minggu ini